Naga 's posts with tag: silat betawi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag silat betawi
Blog EntryPASEBAN LAMA - Celik Mata, Cepet TanganFeb 20, '07 6:44 AM
for everyone

Sumber : Koran Tempo, Sabtu, 13 Januari 2007

Sebuah pukulan datang sangat cepat. Mengarah ke muka. Tapi, lelaki tua itu dengan enteng menepisnya. Serangan berikut tak kalah mengejutkan. Lagi-lagi dengan mudah ia tepis.

Berikutnya, tangan kanan kokoh lelaki tua itu menjangkau leher lawan. Sang penyerang dibuatnya perlaya. Ini memang bukan perkelahian sungguhan. Tapi toh orang bisa melihat keampuhan jurus silat sang Engkong.

Di usianya yang menginjak 72 tahun, Salim bin Sinan masih tetap lincah dan bertenaga. "Yang penting, celik mata cepet tangan," kata Salim sedikit membuka rahasia jurus silatnya itu.

Yang dimaksud Salim, ketika bertarung mata harus jeli dan tangan bergerak cepat. Ini prinsip yang diajarkan gurunya, Mochammad Soleh. Sang guru, yang wafat sekitar 1978, adalah pendiri aliran Paseban.

Dinamai Paseban karena sang pendiri memang tinggal di Paseban, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. M. Soleh mengembangkan ajaran Paseban sampai ke beberapa wilayah, termasuk Kebon Kacang, Kebon Melati, dan Tanah Tinggi. Tak jarang ia mendapat tekanan dari Kompeni Belanda saat mengajari jurus silatnya itu.

Salim muda berguru kepada M. Soleh setelah berkelana dari satu guru ke guru lainnya. Tapi tak serta-merta ia percaya dengan ilmu calon guru barunya itu.

Ia pun meminta izin untuk menjajal ilmu sang guru. "Begitu saya menyerang, tahu-tahu saya terlentang."

Tiap kali mendapat ilmu, "Babe saya minta setelan," katanya. Maksudnya, ilmu yang baru dipelajari dicobanya untuk bertarung melawan Sinan, ayahnya.

Dengan jurus Paseban yang dimilikinya, Salim sempat melempar ayahnya ke luar rumah. "Babe pesen supaya ilmu ini saya pegang terus sampe mati," katanya mengenang.

Semenjak itu Salim mengembangkan ilmunya di Depok. Namun bukan tanpa hambatan.

Beberapa kali ia mendapat tantangan. Salah satunya dari preman setempat.

Salim sebenarnya enggan untuk meladeni preman itu. Tapi akhirnya ia menerima, dengan syarat: yang kalah harus pergi dari Depok. Hanya dalam sekali gebrak preman itu pingsan. "Saya dengar sekarang dia tinggal di Sumatra."

Kecepatan tangan memang jadi ciri khas silat Paseban. Kejelian mata juga.

Adapun karakter aliran ini adalah bertahan. Serangan baru dilakukan setelah lawan menyerang. Pukulan pamungkas pisau tangan dan telapak biasanya diarahkan ke leher atau dada lawan.

Seperti aliran Betawi lainnya, Paseban jarang menggunakan tendangan. "Kaki hanya digunakan untuk menyapu kaki lawan," kata Agus Suprayogi, salah satu murid Engkong Salim.

Mempelajarinya cukup mudah. Paseban Lama hanya mengenal enam jurus dan 12 langkah. Dari situ bisa menghasilkan kombinasi gerakan yang tak terhingga.

"Ilmu ini tak akan habis untuk digali sepanjang umur kita," ucap sang Engkong. (Amal Ihsan)


Blog EntryTiga Berantai Putra BetawiFeb 20, '07 6:42 AM
for everyone

Sumber: Koran Tempo, Sabtu, 21 Oktober 2006.

Anda tahu letak jalan Pangeran Jayakarta? Jalan yang terletak di wilayah Kota itu diabadikan untuk mengenang perjuangan Ahmad Djakerta atau Pangeran Jayakarta III, keturunan Fatahillah, pendiri kota Jakarta.

Ketika Pangeran Jayakarta III berkuasa, armada Maskapai Perdagangan Belanda

(VOC) menyerang Jakarta pada 1619. Pada waktu itu, istana Jayakarta terletak di kawasan yang sekarang disebut Mangga Dua. Ketika istananya diserang, Pangeran Djakerta berhasil meloloskan diri.

Untuk mengelabui tentara kompeni Belanda, pangeran melempar jubahnya ke dalam sumur, untuk mengesankan ia sudah tewas dan mayatnya dibuang ke sumur.

Belanda pun mengira demikian. Setelah Jayakarta dikuasai Belanda, Gubernur Jenderal Jan Pieterzoen Coen mengubah nama kota menjadi Batavia.

Sedangkan Pangeran Jayakarta dan pengikutnya bertahan di hutan jati di wilayah timur Jakarta. Wilayah itu lantas disebut Jatinegara, yang bermakna "negara atau pemerintahan (Jakarta) yang sejati".

Di wilayah ini pula Pangeran Djakerta menggalang kekuatan untuk melawan Belanda. Ia menyamar sebagai rakyat jelata dan terus bergerilya hingga akhir hayatnya. Anak keturunannya juga terus hidup dan menyembunyikan identitasnya.

Cirinya, adalah nama depan "Ateng" yang sebenarnya berarti "Raden". Bukan cuma nama yang diwariskan keturunan Pangeran Jayakarta, tetapi juga permainan pencak silat. Salah satu keturunannya yang mewarisi ilmu silat adalah Haji Ateng Abdulrahim (1885-1970).

Ateng Abdulrahim yang setelah menunaikan haji dipanggil H. Ibrahim pada masanya dikenal jago Mester, Jatinegara. Ia belajar ilmu silat dari ayahnya, Ateng Abdul Hamid dan pamannya Ateng Arwah dan Ateng Damis, juga dari banyak guru silat lainnya seperti Ki Asnawi dan H. Solihin.

H. Ibrahim mewariskan ilmu silatnya kepada anak angkatnya, H. Ahmad Bunawar dan muridnya, H. Deddy Setiadi, yang kemudian mendirikan perguruan pencak silat Tiga Berantai pada 1975.

Menurut H. Ahmad, perguruannya disebut Tiga Berantai karena ada tiga aliran besar ilmu silat yang diajarkan yakni Si Macan, Si Tembak dan Si Karet.

Si Macan adalah ilmu silat yang diwariskan Pangeran Jayakarta. Cirinya adalah serangan jari tangan cakar dengan landasan tenaga dalam yang kuat. Dalam pertarungan, cakar digunakan untuk menyerang titik lemah musuh seperti mata dan tenggorokan.

Adapun Si Tembak adalah ilmu silat yang diwariskan Pangeran Sugiri, kerabat Pangeran Jayakarta. Ciri khasnya adalah menyimpan pukulan telapak tangan kanan yang dialiri tenaga dalam untuk kemudian dilepaskan sebagai pukulan pamungkas.

Yang ketiga, adalah Si Karet, ilmu silat yang merupakan penggabungan dari berbagai aliran seperti aliran Kebon Manggis dari H. Solihin, Cikaret dari Bogor, aliran Mak Inem Pengasinan dari Kerawang dan Serak dari Pak Muhin di Tenabang.

Selain itu, aliran silat Si Sabar dari Kebon Sirih dan Giek Sao dari Cina Utara. "Si Sabar diajarkan kakek saya, Engkong Musa dan Giek Sao diajarkan ayah saya, H. Muhasim," kata H. Ahmad.

Dengan warisan aliran silat yang begitu kaya, tidak heran Tiga Berantai menjadi perguruan silat yang disegani. Tiga Berantai yang juga salah satu perguruan pendiri Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI), seringkali menguasai turnamen pencak silat dalam dan luar negeri dan telah mencetak banyak juara.

Selain itu, Tiga Berantai juga merupakan pendiri Persatuan Pencak Silat Betawi yang mewadahi 80 aliran silat di Jakarta. (Amal Ihsan)


 

Silat sudah menjadi budaya bangsa betawi sejak jaman dahulu kala, kita bisa lihat pada upacara buka pintu pada pernikahan ala betawi selalu di suguhi dengan permainan silat.

Contoh lainnya masing ingat cerita pitung? Pendekar Betawi yang di takuti sama Kompeni dan sangat kesohor pada masanya sebagai Robin Hood-nya betawi kala itu. Pitung adalah salah satu ikon silat pada masanya, ulasan tentang pitung saya coba kutip dari  www.silatindonesia.com:

 

Pitung berasal dari kampung Rawabelong Kelurahan Sukabumi Utara, Jakarta Barat, belajar silat dan mengaji dari H. Naipin. Kepandaiannya bermain silat menjadikan Pitung cukup terkenal karena keberaniannya untuk membela rakyat kecil, dengan cara “Merampok”, Pitung memberikan hasil rampasannya tersebut kepada orang-orang miskin yang membutuhkan. Demikian dikemukakan Margreet van Till (Belanda) dalam makalah/disertasinya, In Search of si Pitung, the History of an Indonesia Legend (1996). Sepak terjang Pitung menjadikan dia sebagai incaran belanda, kerena penghianatan kawan seperguruannya Pitung ditembak mati oleh Schout Van Hinne terjadi pada 16 Oktober 1893. Ia lalu dibawa ke rumah sakit dan esoknya meninggal dunia (17 Oktober). Beritanya dimuat dalam Hindia Olanda (edisi 18 Oktober 1893), pada usia yang muda, sehingga menurut cerita pitung belum sempat berkeluarga.”

 

Silat sendiri sudah mendarah daging dalam kehidupan orang betawi sehingga terkenal keseluruh penjuru negeri. Permainan orang betawi (Maenan =Silat) sudah tidak diragukan lagi kehebatannya. Sehingga banyak pendekar dan jawara pada masanya belajar ‘maenan’ orang betawi.

 

Salah satu contohnya adalah H. Ibrahim yang merupakan pendiri aliran silat cikalong dari cianjur (1816-1906). H. Ibrahim belajar “maenan Kari” dari Bang Kari (bang kari menurut cerita tinggal di daerah Jatinegara) selain itu beliau juga belajar “Maenan Madi” (Bang Madi dari daerah Benteng-Tanggerang). Sebelum belajar kepada keduanya H. ibrahim belajar silat kepada kakak iparnya yaitu Bang Ma’ruf (tinggal di daerah Karet Tanah Abang).

 

Dari cerita sejarah ini menunjukkan betapa pentingnya Posisi Betawi khususnya sebagai tempat untuk menimba ilmu beladiri pada masa itu. Sehingga menjadi tujuan para pendekar untuk menimba ilmu.

 

Lalu kemudian pada perkembangannya budaya ini masih mengakar sebagai salah bagian dari budaya betawi


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help