Naga 's posts with tag: diskusi silat

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag diskusi silat
Start:     Jun 21, '08 12:00a
Location:     Padepokan pencak silat (tentative)
Peringatan ulang tahun FP2STI yang ke - 2 akan di adakan di Padepokan pencak silat (tentative), akan di meriahkan juga dengan diskusi Bulanan silat tradisional Banten - Silat terumbu (masih nunggu konfirmasi)

Salah satu kegiatan rutin yang diadakan oleh Forum pecinta dan pelestari silat tradisional (FP#STI) adalah diskusi bulanan.  Sebuah ajang ilmiah tempat berbagai aliran dan atau perguruan ditampilkan, dikenalkan kembali dan didalami segala seginya, agar lebih dikenal dan akhirnya dicintai oleh kaum muda Indonesia.  Untuk Desember 2007, diskusi menghadirkan IPOSI Silau Macan.

 

IPOSI (Ikatan Pencak Silat Olahraga dan Silaturahmi) Silau Macan merupakan warisan pejuang kemerdekaan dari Tanah Condet, Betawi yaitu Entong Gendut. 

Yang hadir dalam diskusi adalah Nur Rosyid, generasi ketiga Silau Macan ini.  Ayah dari Nur Rosyid adalah Entong Sapri (1933-2005) yang merupakan generasi kedua serta masih memiliki hubungan saudara dengan Entong Gendut.

 

Bang Rosyid hadir bersama empat rekan lainnya dengan berpakaian lengkap hitam-hitam dan berpeci.  Memang mereka baru pulang dari acara ‘palang pintu’ dan malam nanti juga akan berlatih silat lagi.

 

Dengan dihadiri oleh sekitar 30 peserta pecinta pencak silat dari fourm sahabatsilat.com, milis silatindonesia dan para penggiat FP2STI, serta pihak lainnya., acara diskusi dibuka oleh moderator Kisawung, sekitar pukul 14:20WIB, pada hari sabtu, 8 Desember 2007 bertempat di Gedung Hidro, Jalan Dewi Sartika 199B, cawang, Jak-tim.

 

Silau Macan

Apa makna Silau Macan.  Dari penjelasan Bang Rosyid, ‘Silau Macan” diambil dari banyak gerakan silat aliran ini yang seolah-oleh menutupi mata atau muka, seperti kesilau’an.  Silau Macan juga mengambil perbawa macan yang memiliki wibawa dan kekuatan dalam pandangan matanya sehingga dapat menjatuhkan misalnya seekor monyet dari pohon. 

 

Secara garis besar dalam IPOSI silau macan ada 3 tingkatan untuk berlatih dan masih dilanjutkan dengan tingkat perasa dan peraba sebagi tingkat akhir.  Waktu yang dibutuhkan, jika tekun, untuk menguasai ilmu ini sekitar 3 tahun.

 

Sebagai warga yang memiliki kesadaran akan Sang Khalik, dalam IPOSI SIlau Macan juga sangat ditekankan unsur religius Islami.  Itulah sebabnya dalam banyak kegiatan;  pengajian/marawis atau membaca Al-fatiha tidak terlepas dari latihan silat Silau Macan.

 

Memang, kata Bang Rosid, Silau Macan sebenarnya dimaksudkan untuk pembinaan akhlak dan iman islami generasi muda selain untuk silahturahmi dan juga olahraga yang menyehatkan tubuh.  Itulah sebabnya semua anggota selalu dihimbau untuk sholat 5 waktu dan juga mematuhi perintah  agama dan menjauhi larangannya termasuk tidak minum-minuman keras (mabuk-mabuk’an), mencuri, berbuat kriminal dan lain sebagainya. 

 

 

Diakui oleh Bang Rasyid, bahwa Silau Macan memang diambil dari berbagai aliran termasuk cikalong, sitembak, silat macan dan aliran betawi lainnya. Kesemuanya kemudian diolah, dirangkum dan diberi kerangka khusus sehingga melahirkan tiga jurus inti SIlau Macan, yang merupakan warisan Entong Gendut dan adalah kekhasan IPOSI Silau Macan.  Dengan demikian IPOSI Silau MAcan menjadi suatu aliran tersendiri, yang memperkaya jagat persilatan di Betawi khususnya. 

 

 

Dikaui oleh Bang Rosyid, yang juga ketua Iposi ini, bahwa Silau Macan memang tidak terlalu banyak publikasi sehingga terkesan tidak nampak di permukaan.

Padahal, menurutnya, tidak sedikit jumlah anggotanya mulai dari Condet, Kramat jati hingga daerah lain di Betawi.  Dan hingga saat ini pembenahan internal terus dilakukan agar dapat melestarikan warisan ini dengan lebih baik .

 

Pada kesempata itu juga diperagakan beberapa jurus SIlau Macan beserta aplikasinya. Sebuah pertunjukkan yang membuat para hadirin terpukau; , dengan kuda-kuda rendahnya, seorang pesilat Silau Macan memperagakan gerakan-gerakan silat macan dengan jari tangan rapat dan lurus (tidak mencengkeram), serta dilakukan dengan menggunakan beberapa penjuru. Sehingga keelokan, keanggunan serta sekaligus kekuatan jurus macan in tampak jelas tergambar dari peragaan tersebut.

 

Pada peragaan aplikasi lainnya terlihat peragan kuncian dan juga ambilan tangan musuh yang kemudian diselipkan pada kaki  musuh dan akhirnya membuat lawan terjungkal. Sebuah tehnik tingkat tinggi, unik dan jarang kita saksikan jika bukan di pencak silat tradisional. 

 

Ilmu batin dengan dasar dan tetap dalam jalan agama juga ada dalam IPOSI Silau Macan. Dengan rapalan atau laku tertentu diharapkan akan mempertajam penguasaan ilmu di Silau Macan.  Tetnu saja semua dengan seijin Allah, Sang Pemilik semua ilmu dan kepadaNya lah semua ilmu semestinya dikembalikan.

 

 

Jakarta, 11 Desember 2007

Ian S

 

Source : Ian Samsudin, member of silatindonesia.com 

 

   


Photo AlbumDiskusi Bulanan Silau Macan (4 photos)Dec 11, '07 3:49 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
Berikut dokumentasi diskusi silau macan

Blog EntryIPOSI - Silat Silau Macan dari tanah CondetDec 5, '07 7:13 AM
for everyone
IPOSI - Silat Silau Macan dari tanah Condet
http://silatindonesia.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=162 Tulisan ini hasil penelusuran kami saat berkunjung ke daerah condet, kawasan ini pernah menjadi daerah konservasi budaya betawi, oleh Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1975, melihat kehijaun dan udaranya yang sejuk, daerah ini memang dikenal sebagai daerah penghasil buah salak dan duku hingga saat ini.

Condet yang terbagi dalam tiga kelurahan Bale Kambang, Batu Ampar, dan Kampung Gedung gagal menjadi cagar budaya dan kini telah dipindahkan ke Setu Babakan oleh pemerintah DKI Jakarta, namun bila melihat sejarah panjang daerah ini, sejak 3.000 sampai 4.000 tahun lalu di kawasan yang berbatasan dengan Kramatjati ini sudah ada kehidupan. Ditemukan kapak batu, gerabah, dan lampu perunggu di sini. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Budayawan Ridwan Saidi (Koran Republika-red) bahwa dahulu condet pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Salaksana pada tahun 120M, nama-nama yang menjadi sejarah seperti seperti Bale Kambang dan Batu Ampar. Bale Kambang adalah tempat pesanggrahan raja-raja, sedangkan Batu Ampar merupakan batu besar tempat meletakkan sesaji (sesajen).

Namun ada catatan yang tertinggal disana, bahwa condet tidak hanya sebuah kawasan yang memiliki ciri khas betawi namun juga budaya yang masih tertinggal dan tetap dijaga oleh penduduk asli betawi disana.

Sore itu kami bertiga ( Saya dan kedua teman dari milis pendaki) berniat bersilaturahmi dengan salah satu tokoh dari condet yang sudah tidak asing lagi, selain sebagai pemerhati budaya betawi, tokoh kita ini juga pandai bersilat, itulah Entong H. Sapri salah satu cucu dari Entong Gendut dirumah kediamannya. Kami bertiga diterimanya dengan baik, usianya memang sudah 75 tahun namun semangatnya terpancar dari wajahnya. Beberapa penghargaan dari pemerintah DKI Jakarta terpampang di dinding rumahnya yang sederhana, dengan halaman rumah yang ditumbuhi oleh pohon yang rimbun

Karena malam itu H. Sapri cukup lelah akhirnya kami pamit dan beliau mengajak kami untuk hadir pada malam rabu untuk melihat latihan silatnya, sayangnya undangan tersebut batal kami laksanakan karena ada kesibukan lain yang tidak bisa dihindari.

Satu tahun kemudian ada rasa kangen dengan H. Entong Sapri, dan bersama Mas Faried dari milis pendaki, saya dan Mas Ezra dari Milis Silatbogor akhirnya sepakat kembali menemuinya di rumahnya. Namun kabar duka mengurungkan niat kami bertiga, H. Entong Sapri sudah meninggal dunia satu tahun yang lalu tepatnya sebelum bulan puasa tahun 2005. ujur keluarga H.Sapri

Rasa duka yang mendalam menyelimuti kami, rasanya pertemuan waktu itu adalah pertemuan terakhir dengannya, hanya doa yang bisa kami berikan padanya agar Amal Ibadahnya diterima oleh Allah SWT.

Memang ada rasa kecewa karena tidak bisa lagi bertemu dengan Babeh Sapri, tapi rasa tersebut dapat terobati dengan hadirnya mas Didi (Ahmad Zainudin ) salah satu putra H. Entong Sapri, saat ini ia masih kuliah di salah satu Universitas di Jakarta, sebagai orang betawi ia paham betul arti sebuah pendidikan, karena melalui pendidikan inilah kami warga betawi bisa membangun citra pada orang betawi lainnya.

Mas didi cukup terbuka dan nampaknya ia pun menyadari arti sebuah pelestarian budaya, hingga iapun kini masih merintis sebuah buku tentang H. Entong Sapri baik sebagai pribadi maupun dalam organisasinya di pesilatan. IPOSI (Ikatan Pencak Silat Olahraga dan Silaturahmi) itulah nama perkumpulan silat H. Entong Sapri.

Ia pun tak segan-segan memperagakan sedikit ciri khas jurus dari pencak silat yang ia pelajari, apalagi kami sebelumnya telah mengetahui aliran silat IPOSI ini, kadang-kadang mas didi sempat bertanya dari mana kalian bisa tahu..? ya tentunya dari babeh anda sendiri waktu itu.

Melihat gerakannya IPOSI memang khas betawi dengan kuda-kuda yang rendah dan gerakan tangan yang cepat memberikan penekanan pada penyerangan dan juga bertahan, menurut H. Entong Sapri semasa Hidup kepada penulis bahwa silat ini punya maenan Cikalong seperti Suliwa, Silau macan, dan cimande. Gerakan jurus cikalongnya halus namun bertenaga dan sewaktu diperagakan jurus silau macan oleh mas didi, saya sempat teringat dengan salah satu perguruan silat betawi di acara festival silat betawi di Cibubur tahun 2006 lalu. Silau macan itulah jurus yang sering disebut – sebut oleh H. Entong sapri, dan malalui mas didi jelas sekali bahwa gerakan Silau macan layaknya macan yang akan menerkan musuhnya.

“Silat ini bertujuan untuk silaturahmi, babeh diusia tuanya masih melatih ke Tanah Abang hingga ke Cibinong, “ ujur Mas Didi. Sepeninggal babeh, kakak lelaki saya yang mewarisi dan menjaganya, dan tentunya kelaurga kami juga turut menjaga warisan ini.

Belajar silat IPOSI unsure agama Islam juga cukup kental terasa dimana, seseorang wajib menjalankan syariat islam dengan benar, bukan bertujuan mencari kesaktian tapi mencari iman melalui silat. Karena tujuan kita hidup ini untuk beribadah jadi ya berlatih silat juga Ibadah karena mensyukuri nikmat sehat.

Diceritakan juga bahwa condet merupakan basisnya pendekar dan juga alim ulama, dan salah satu pendekar yang cukup tersohor namanya adalah ayah kakeknya sendiri yaitu Entong Gendut, sepak terjangnya kepada Kompani belanda menjadi cerita sendiri yang menjadi sejarah daerah ini.

Untuk itu, sebaiknya kita kembali dulu pada keadaan ratusan tahun sebelumnya. Di ujung Jl Condet Raya terdapat sebuah gedung tua yang kini tinggal kerangka di bagian depannya karena terbakar pada 1985. Gedung yang terletak di Jl Tanjung Timur (Tanjung Oost) yang kala itu dinamakan gedung Grooneveld merupakan rumah tuan tanah terbesar yang pernah dibangun di Batavia (1756) yang letaknya jauh di luar kota. Waktu itu, untuk mencapai gedung megah ini diperlukan lima jam dari pusat kota (Pasar Ikan) dengan kereta kuda. Adanya gedung ini menjadikan kawasan tersebut hingga sekarang dinamakan Kampung Gedung.

Gedung ini dibangun oleh Vincent Riemsdijk, anggota Dewan Hindia, sebagai perkebunan dan sekaligus peristirahatan. Setelah kematiannya, putranya Daniel van Riemsdijk, seorang petani andal, benar-benar mengurus perkebunan Tanjung Timur dan mengelolanya dengan baik. Pada waktu itu, 6.000 ekor sapi digembalakan di perkebunan ini, tempat yang sekarang berdiri gedung-gedung megah dan jalan raya dari Tanjung Timur ke Terminal Kampung Rambutan.

Di gedung ini pada 1749 pernah berlangsung pertemuan antara Gubernur Jenderal Von Imhoff dan Ratu Syarifah Fatimah, wali sultan Banten. Syarifah, wanita terdidik dan cerdas, pada 1720 menjadi istri Pangeran Mahkota Banten, Zainul Arifin. Ia sangat berpengaruh terhadap suaminya ketika menjadi sultan Banten (1733). Tapi, Syarifah sendiri meninggal dengan merana karena dibuang ke Pulau Edam di Kepulauan Seribu, akibat pemberontakan Kyai Tapa (1750). Ia ditangkap akibat ambisinya untuk mengangkat Syarif Abdullah, yang menikah dengan keponakannya, untuk dijadikan pangeran mahkota Kesultanan Banten.

Gedung yang juga dikenal dengan Vila Nova itu telah beberapa kali berganti pemilik. Menurut Ran Ramelan dalam Condet Cagar Budaya Betawi tiap penggantian tuan tanah ini, diadakan peraturan baru yang memberatkan rakyat Condet. Terhadap tiap pemuda Condet yang telah menginjak dewasa dikeluarkan kompenian atau pajak kepala sebesar 25 sen (nilainya kira-kira 10 liter beras). Karena banyak petani yang tidak sanggup membayar blasting (pajak) yang sangat memberatkan itu, tuan tanah sering membawa petani yang tak sanggup membayar ke landraad (pengadilan). Dan tuan tanah di Condet kelewat getol dalam membikin perkara. Akibatnya banyak petani yang bangkrut, rumahnya di%@!#$&, atau tak jarang yang dibakar. Penduduk yang belum membayar blasting hasil sawah dan kebunnya tidak boleh dipanen.

Melihat penderitaan rakyat yang demikian itulah, Entong Gendut meradang. Ia kumpulkan sejumlah warga Condet. Panji perang dikibarkan. Dengan meneriakkan Allahu Akbar, Entong Gendut mengobarkan semangat jihad fi sabililah. Saat itulah, pada 5 April 1916 perang berkobar di Vila Nova yang ditempati Lady Lollinson dan para centengnya. Entong Gendut bersama para pemuda Condet, bersamaan dengan pertunjukan Tari Topeng menyerbu tempat itu.

''Allahu Akbar ..... Sabililah ..... gue enggak takut ame kompeni'', teriak Entong Gendut dan kawan-kawannya. Namun setelah datang bantuan dari Batavia, pemberontakan itu ditumpas. Haji Entong Gendut pun syahid tertemnbus timah panas. Ada berbagai versi tentang kematiannya. Haji Sapri, salah satu cucunya yang tinggal di Condet kepada penulis beberapa waktu lalu mengatakan, kakeknya ditembak Belanda bukan di Kampung Gedong, tapi di Batu Ampar. ''Saat beliau hendak melewati sungai ketika dikejar kompeni.'' Versi lain menyebutkan, jenazahnya diangkut kompeni, kemudian diceburkan ke laut. Nama pahlawan ini pernah diabadikan untuk sebuah jalan di Condet. Sayangnya, entah karena apa kini diganti menjadi Jl Ayaman, nama salah satu tuan tanah. (Koran Haraoan)

Dari cuplikan kisah tadi mungkin kita akan bertanya, mengapa kita sebagai warga betawi (Jakarta) membiarkan kekayaan budaya ini menghilang, dan tentunya melalui tulisan ini, kami berharap anda sebagai generasi muda memiliki rasa percaya diri bahwa silat adalah budaya dan asset kita bersama.

Penulis : Yanweka
Team : ( Faried, Ezra, Yans)

Disarikan dari :
-Alwi Shahab (Republika)
-Nugroho Notosusanto (Balai Pustaka)
-Kelurga H. Entong Sapri ( Mas Didi)


Kenapa Cianjur?

Cianjur merupakan  kota yang sangat terkenal dengan makanan khasnya dari mulai Beras cianjur sampai tauco cianjur. Tetapi ternyata cianjur memiliki potensi lain sebagai daerah yang sarat dengan sejarah perkembangan budaya bangsa khususnya ketika cianjur masih menjadi pusat karesidenan periangan.

Cianjur didirikan oleh Rd. Aria Wiratanu Datar yang merupakan Putra dari Rd. Arya wangsa Goparana dari Sagara Herang, Rd Aria Wangsa Goparana sendiri merupakan keturunan dari kerajaan Galuh pakuan. Pusat pemerintahan Cianjur kala itu adalah di daerah cikalong sebelum kemudian di pindahkan ke kota cianjur sampai sekarang.

Salah satu peninggalan budaya luhur dari masyarakat cianjur adalah Maenpo (maen poho) atau lebih dikenal dengan pecak silat dewasa ini. Dan ini menjadi salah satu bukti bahwa cianjur merupakan pusat kebudayaan dan pemerintahan yang sangat diperhitungkan pada masanya.

Adalah Rd Jaya perbata yang merupakan cucu dari Rd. Aria Wiratanu Datar yang kemudian setelah pergi berhaji berganti nama menjadi Rd. H. Ibrahim yang merupakan tokoh maen po yang sangat terkenal di cianjur. Beliau memperkenalkan system beladiri yang sangat  istimewa yang menyebabkan maenpo menjadi salah satu ciri budaya masyarakat cianjur kala itu.

Aliran silat yang dikembangkan oleh H Ibrahim adalah aliran silat cikalong, Beliau termasuk tokoh persilatan yang sangat terbuka dan haus ilmu sehingga beliau memiliki paling tidak 17 Guru silat dari berbagai macam aliran. Beberapa guru silat yang sangat  mempengaruhi Ulin (mainan) Cikalong adalah Bang Ateng Alimuddin dari Kampung Karet, Bang Kari dari Kampung Benteng Tanggerang dan Bang Madi dari Kampung Jatinegara.

Dimasa yang sama sekitar akhir abad ke 19 juga ada tokoh silat yang juga memiliki system beladiri yang istimewa, beliau adalah Mama Kosim dari Pagaruyung yang mengembara sampai ke Cikalong. Ketika Mama kosim ini sedang istirahat di masjid beliau setelah isya berlatih silat dan ini diketahui oleh Rd. Enoch yang kebetulan murid H. Ibrahim, kemudian Rd. enoh mengajak Mama Kosim untuk tinggal dan menjaga perkebunannya di daerah sabandar sehingga beliau di kenal dengan nama Mama Sabandar.

Rd. H. Ibrahim pada kala itu mendapatkan bahwa beberapa muridnya juga belajar ke Mama Kosim yang kemudian terkenal dengan sebutan mama Sabandar ini. Sehingga timbul rasa penasaran dan Kedua pendekar besar ini sempat bertemu dan keduanya mengakui keunggulan masing masing dan tidak saling mengalahkan.

Pada perkembangan selanjutnya style cikalong (yang sebelumnya sudah mengenal kari dan madi) berkolaborasi dengan aliran sabandar ini, Hal ini terjadi setelah generasi ke 2 dari Aliran cikalong yang memang belajar juga pada mama sabandar. Sehingga prinsip tenaga yang dikebangkan di aliran yang ada di cianjur mengikuti perinsip Madi, Kari dan sabandar yang berarti: Madi adalah prinsip membendung tenaga lawan, Sedangkan Kari adalah menyerang lawan dan Sabandar mengalirkan tenaga lawan.

Secara geograpis  ada 4 tempat utama yang merupakan tempat terpenting dalam penyebaran aliran maenpo yang ada di cianjur. Tempat itu adalah: Pasar Baru yang merupakan tempat dimana aliran cikalong banyak dipelajari dan dikembangkan, Bojong Herang dimana sabandar banyak di kembangkan dan dipelajari dan diantara kedua tempat ini ada daerah kaum yang merupakan tempat tokoh tokoh yang belajar kedua aliran ini bak cikalong maupun sabandar. Tempat lain adalah Cikaret yang merupakan tempat dimana aliran kari berkembang.

Dengan latar belakang cianjur merupakan tempat berkembangnya aliran besar yang sangat berpengaruh pada style beladiri nusantara dengan karakteristik bela diri yang unik maka wisata silat kecianjur ini di gagas oleh FP2STI (forum pencinta dan pelestari silat tradisional indonesia), selain itu factor dukungan dan program pemerintah daerah setempat untuk mencanangkan Ngaos, mamaos dan Maen Po (mengaji, Berkesenian dan Bersilat) menjadi budaya bangsa cianjur menyebabkan perjalanan wisata ini layak dilakukan sebagai pilot projuect guna membantu  bangkitnya wisata silat di Cianjur.

Pada tanggal 11,12 dan 13 April kemarin  wisata silat ini berlangsung dengan sukses, dimulai dengan pelepasan rombongan komunitas silat indonesia (www.silatindonesia.com ) oleh bupati Cianjur di pendopo Kabupaten cianjur untuk selanjutnya melakukan Ziarah ke Situs silat cikalong, Kemudian malam apresiasi maenpo cianjur dan diakhiri dengan workshop dan diskusi aliran cikalong, cikaret dan sabandar.

Liputan kegiatan selama wisata silat akan dilaporakan bagian 2 tulisan ini  (bersambung…)


EventDiskusi Gerak sakaMar 6, '07 6:34 AM
for everyone
Start:     Apr 6, '07 09:00a
untuk bulan depan (april) direncanakan aliran Gerak Saka/rasa tanggal 6 April 2007, jam 9.00 WIB di Tempatnya Pak Kusnul (Gedung hidro Jl. Dewi Sartika)

EventDiskusi Silat margaluyu Mar 6, '07 6:29 AM
for everyone
Start:     Mar 15, '07 7:30p
Location:     Jakarta
Diskusi Silat margaluyu akan diadakan tanggal 15 maret jam 19.30 WIB atau 17 Maret 2007 jam 15.00 WIB tempatnya mungkin di Tempat Pak Kusnul lagi (Gedung Hidro 199 B Dewi Sartika) atau di depan Perpustakaan Padepokan Pencak Silat/nanti ditentukan lagi

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help