Istilah 'TEU MERE RASA' banyak di temukan dikalangan penghayat beladiri silat tradisional khususnya yang mendalami silat sunda.
Kata ini menggambarkan, bagaimana melatih gerakan agar tidak disadari oleh lawan atau membuat lawan jadi terbuai dan terlena.
Seperti dalam silat cianjur seperti cikalong, permainan rasa untuk mengendalikan rasa lawan di pelajari dan dilatih dalam jurus maupun usik kala latihan
Kaidah salin, geong, sabandar, kari, madi menjadi basic dalam gerakan tidak memberi rasa ini.
Kemiripan kaidah teu mere rasa ini mengingatkan saya pada filosofi comfort zone atau zona aman yang digambarkan dalam kisah cara merebus kodok.
Diceritakan ketika kita akan merebus kodok hidup2, maka air rebusan tidak boleh terlalu panas, karena si kodok akan melompat. Kita harus siapkan air dengan suhu hangat yang pas yang menyebabkan si kodok nyaman dan tidak ada keinginan keluar dari kuali.
Demikian lah konsep teu mere rasa, membuat nyaman dan membuat lawan tidak menyadari bahaya dari gerakan yang kita buat Pukul, tendang, banting itu kerjaan biasa kalau kita belajar beladiri. sebagai ilmu paling primitif yang di pelajari manusia setelah komunikasi (baca:bahasa) beladiri sendiri merupakan kegiatan yang sifatnya menyalurkan nafsu primitif manusia yaitu bertahan dan menyerang. banyak aliran beladiri meyakini bahwa beladiri bukan hanya sekedar tendang dan gebuk, melainkan ada aspek yang lebih utama dari beladiri yaitu mengendalikan diri sendiri, karena lawan sesungguhnya adalah diri kita sendiri. tidak aneh banyak muatan untuk membangun kejiwaan seorang praktisi beladiri di masukkan dalam setiap pengajaran beladiri yang di tekuni. dari mulai meditasi, pengendalian hawa nafsu dengan berpuasa hingga pelajaran agama menjadi dasar utama mental seorang pebeladiri. Namun tetap saja, egoisme sebagai manusia kadang susah di kendalikan, keinginan untuk membuktikan bahwa apa yang kita miliki adalah yang terbaik kadang mengundang keinginan untuk mencoba dengan alasan "Silaturahmi", "Diskusi", "Tukar Pikiran" sampai yang lebih ekstrim lagi "Jajal" dan "Ngadu Jajaten" menjadi sesuatu yang lumrah di kalangan ini. Kadang di mulai dari obrolan ringan, hingga praktek singkat bisa terjadi di mana saja hanya untuk memastikan bahwa pemahaman kita selama ini lebih baik dari pemahaman orang lain. lalu di mana kata "Silaturahmi itu", ternyata silaturahmi itu terbentuk ketika kita membuang jauh jauh egoisme, fanatisme berlebihan dan membuka mata bahwa beladiri bukan alat untuk menyakiti melainkan bahasa pergaulan. sehingga ibarat gelas kosong, kita siap menerima ilmu apa saja dari siapa saja agar pemahaman kita dan pengetahuan beladiri kita terus di perkaya dari orang - orang di sekitar kita. Hingga Jargon pencak silat ("Panca Kaki Silaturahmi") bisa terbukti dan bukannya hanya bisa jadi tukang gebuk dan pukul. Jenius silat mulai dari membuka diri bukan bukan hanya mengandalkan otot dan otak semata melainkan membuka hati Gerakan peduli silat ini di canangkan sebagai aksi moral agar silat bisa lebih diperhatikan oleh anak anak bangsa, di tengah semakin derasnya informasi beladiri luar indonesia yang semakin mencuci otak anak anak bangsa.
sampai sekarang masih ada sekitar 600 aliran silat yang asli indonesia yang masih exist, masih ada latihan dan masih ada gurunya. namun dengan semakin sedikitnya minat orang belajar silat dengan berbagai alasan dari mulai kesan kampungan sampai terlalu mengedepankan hal yang irasional menyebabkan silat semakin turun pamornya di mata anak muda masa kini
Gerakan Peduli Silat ini, akan berkelanjutan dengan membuat fans page di Facebook untuk menggalang dukungan terhadap kegiatan peduli silat seperti pengenalan silat pada anak - anak sekolah, Berlatih silat di tempat umum sampai dengan kegiatan ilmiah seperti diskusi aliran silat tradisional di kampus kampus dan mall.
semoga gerakan moral ini juga akan meningkatkan kesadaran pemerintah akan betapa hebatnya potensi warisan leluhur ini sehingga perlu kita sosialisasikan dan masyarakatkan dari mulai anak anak sampai dewasa.
kalau boleh berkaca silahkan lihat bangsa jepang, mereka sangat bangga dengan beladiri asli mereka bahkan setiap ada kegiatan pertukaran pelajar maka akan diikuti dengan pertukaran budaya termasuk diantaranya adalah pengajaran beladiri jepang pada pelajar asing (seperti yang di alami oleh para alumni pertukaran pelajar dulu yang kemudian mereka sekarang menjadi duta-duta karate dan judo di Indonesia)
Cinta Silat = Bangga Menjadi Bangsa Indonesia Tokoh Muslim ini sebenarnya bernama Ahmad Lussy, tetapi di zaman ini dia lebih dikenal dengan nama Thomas Mattulessy yang identik Kristen. Inilah Salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minoritas atas sejarah pejuang Muslim di Maluku dan/atau Indonesia pada umumnya.
Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen.
Pattimura adalah Muslim Taat Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Ia bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.
Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya.
Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit. M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan”. Jadi asal nama Thomas Mattulessy dalam buku sejarah nasional adalah karangan dari Sapija. Sebenarnya Mattulessy bukanlah marga melainkan nama, yaitu Ahmad Lussy (Mat Lussy). Dan nama Thomas Mattulessy sebenarnya tidak pernah ada di dalam sejarah perjuangan rakyat Maluku (yang ada adalah Mat Lussy).
Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini beragama Islam. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.
Masih menurut Mansyur, mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan nama Maluku.
Mansyur pun tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon yang sampai kini diidentikkan dengan Kristen. Penulis buku Menemukan Sejarah (yang menjadi best seller) ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen, lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”
Perjuangan Kapitan Ahmad Lussy “Pattimura” Perlawanan rakyat Maluku terhadap pemerintahan kolonial Hindia Belanda disebabkan beberapa hal. Pertama, adanya kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie). Kedua, Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yaitu monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah polisi laut yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Ketiga, rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.
Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.
Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Jakarta. Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak. Akhirnya Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.
Nama Pattimura sampai saat ini tetap harum. Namun nama Thomas Mattulessy lebih dikenal daripada Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Menurut Mansyur Suryanegara, memang ada upaya-upaya deislamisasi dalam penulisan sejarah. Ini mirip dengan apa yang terjadi terhadap Wong Fei Hung di Cina. Pemerintah nasionalis-komunis Cina berusaha menutupi keislaman Wong Fei Hung, seorang Muslim yang penuh izzah (harga diri) sehingga tidak menerima hinaan dari orang Barat. Dalam film Once Upon A Time in China, tokoh kharismatik ini diperankan aktor ternama Jet Li.
Demikianlah pelurusan sejarah Pattimura yang sebenarnya bernama Kapitan Ahmad Lussy atau Mat Lussy.
Selamat hari pahlawan, semoga arwah-arwah kalian di terima di sisi Allah SWT.
(dari berbagai sumber) termasuk website BAPPEDA maluku tengah
http://www.maltengkab.go.id/bappeda/profil.php?id=1  Perkenankan Kami Sekeluarga memohon maaf kepada segenap rekan, sahabat dan teman di manapun anda berada seraya berharap agar Alloh menerima puasa dan amal shaleh kita di bulan ramadhan ini kata bijak ini berasal dari bahasa sunda yang pernah di sampaikan oleh tokoh maenpo sunda di daerah kaum cianjur yaitu Rd. Obing Ibrahim yang dalam bukunya "Sadjarah kabudajaan penca" di terbitkan pada tahun 1938. kata bijak ini juga menggambarkan berapa pentingnya semangat untuk terus belajar dan mengesampingkan unsur - unsur kesombongan dalam belajar beladiri. dengan selalu melihat bahwa semua aliran beladiri adalah suatu karya adiluhung yang di buat oleh para leluhur kita bukan dalam 1 malam, melainkan dengan experimen dan uji coba yang berlangsung secara terus menerus. Kata bijak lainnya adalah "Jangan membangga banggakan guru atau bahkan diri sendiri jika kita belajar beladiri", ini menggambarkan perinsip untuk tidak berlebihan memuja atau membanggakan guru kita, sementara kita sendiri tidak memiliki kemampuan untuk bisa kita banggakan. belajar tiada henti, berhanti sebelum mati merupakan falsafah yang perlu di camkan di setiap hati pengamal beladiri. ketika perasaan bahwa ilmu kita sudah cukup maka sesungguhnya kita pada taraf ilmu yang serendah-rendahnya. Orang yang berilmu tinggi akan selalu merasa kekurangan atas ilmu dan merasa bodoh atas apa yang dia pelajari  Semua orang sekarang sudah punya facebook, beberapa bahkan setiap hari mengupdate statusnya untuk di ketahui dan di ikuti oleh teman temannya. Facebook menjadi fenomena semenjak kehadirannya di tahun 2007-an, dan berhasil menggeser frienster.com yang sempat menjadi tempat favorit untuk nongkrong melakukan social networking di dunia maya. salah satu kelebihan facebook adalah user friendly dan banyaknya aplikasi yang bisa di pasang sebagai add on dari website ini, dari mulai aplikasi sederhana seperti pooling, atau permainan gigit gigitan teman (seperti ketuk ular) yang bisa menular sesama teman sampai membuat game yang cukup komplek. itu semua dibangun dengan konsep social networking atau jejaring sosial. dampak dari demam facebook ini adalah terhubungnya tali tali pertemanan yang sudah lama putus, dari mulai teman kerja lama. teman kuliah bahkan sampai teman semasa kecil. belum lagi fasilitas untuk bisa membuat group yang menyebabkan orang yang memiliki kesamaan hobi dapat saling berinteraksi disini. beberapa group yang saya ikuti di facebook.com yang berhubungan dengan dunia Persilatan adalah :
silat indonesia , Fokuseba , garis paksi
 Jurus Pancer, hampir di setiap aliran pencak silat selalu memiliki jurus ini. inti dari pancer sendiri sebagai salah satu metoda untuk melatih pola langkah dan tata langkah dalam berjurus atau bersilat. secara pribadi saya tidak akan menyoroti kaitan jurus pancer dengan konsep pancer yang banyak di bahas di berbagai diskusi dan forum. karena bagi saya membahas pancer sebagai suatu style jurus dalam suatu aliran sepertinya lebih menarik dari pada melihat dari unsur non teknis seperti metafisika atau yang lainnya. Meski saya juga memiliki sedikit pemahaman tentang pancer ini, dan maaf jika dirasa penjelasannya tidak bisa detail dan memberikan bantuan. maksud saya, saya hanya memberikan sedikit sharing wawasan dan pengetahuan dari apa yang saya ketahui tentang pancer dan jurus pancer ini. Pancer atau jurus pancer sering di gunakan atau di pahami sebagai bentuk latihan beladiri untuk keperluan menghadapi serangan lawan dari banyak arah (biasanya dari 4 penjuru angin atau lebih). tentu saja berbeda dengan gerakan dan pola langkah ketika berjurus yang cendrung maju ke depan, pancer gerakan cendrung di tempat dan memusatkan gerakan pada satu titik pusat yang di bedakan dari posisi kaki atau badan yang menjadi titik pusat. Bentuk bentuk pancer yang biasa kita temukan biasanya terdiri dari pancer 90 derajat, membentuk pola gerakan 4 penjuru mata angin (+), di mana gerakan dilakukan dengan menggunakan jurus untuk bergerak ke seluruh arah mata angin dengan berpusat pada 1 titik bentuk ini di yakini untuk mengantisipasi gerakan lawan dari 4 penjuru. namun yang paling utama adalah melatih keselarasan gerak kita ketika harus membulak balik kan badan kita dengan seirama dengan jurus dan "Berjama'ah" bentuk bentuk pola gerakan dan langkah yang bentuknya memusat di yakini sebagai gerakan pancer baik itu berbentuk gerakan 4 penjuru mata angin, 8 penjuru mataangin atau bentuk bentuk tertentu yang menyebabkan kita harus bergerak mengitari dan kembali ke tempat asal kita. Bantuk bentuk gerakan seperti Jurus Masagikeun, Jurus Payung Rosul Pun di yakini sebagai bentuk lain dari gerakan jurus pancer ini. yang menarik hampir setiap aliran dalam melatih jurus pancer ini biasanya di ikuti dengan pola pernapasan tertentu bahkan ada yang dengan membaca bacaan tertentu. karena di yakini dalam melatih pancer ini sebenarnya juga melatih unsur unsur energi (mengambil energi) sehingga tidak mengherankan ketika kita belajar beladiri (khususnya yang tradisional seperti silat) pancer ini menjadi ilmu yang termasuk level advance dan tidak di berikan kepada para beginner. apakah ada yang pernah merasakan atau menggunakan pancer dalam real condition di jalanan dan dilapangan, silahkan berbagi disini... Dalam beladiri pencak silat, seseorang apabila mendapatkan serangan dari lawan cenderung menangkis, mengelak, menghindar dan membalasnya dengan pukulan atau tendangan. Kenyataannya masih banyak teknik lain yang dalam pelaksanaannya kurang diperhatikan orang padahal manfaatnya tidak kalah penting dengan teknik lain. Teknik tersebut adalah mengunci jari tangan yang cukup praktis untuk membela diri. Ada beberapa unsur yang perlu diperhatikan agar kuncian jari tangan tersebut dapat dilakukan dengan mudah dan praktis. Pertama anda harus tenang agar mampu menghindarkan serangan lawan sesuai dengan kemampuan anda serta dapat menempatkan pada posisi yang lebih menguntungkan, selanjutnya anda harus tepat dalam mengambil jari tangan lawan didukung tenaga yang kuat sehingga kuncian dapat dilakukan dengan efektif. Berikut dapat anda lihat peragaan teknik-teknik kuncian tangan :       -
Anda (kanan) melakukan sikap pasang menunggu serangan, sementara lawan anda (kiri) bersiap melakukan serangan. (gambar 1) -
Lawan anda melangkahkan kaki kanannya sambil memukul lurus dengan menggunakan tangan kanan. Putarlah badan anda ke kanan sambil menangkap pergelangan tangannya, sementara tangan kiri anda berusaha mematahkan sikutnya. (gambar 2) -
Lawan anda membuka kepalan tangan kanannya sambil memutar keluar, sementara tangan kirinya mendorong sikut anda. Posisi ini sangat tidak menguntungkan bagi anda (gambar 3) -
Anda melihat kelemahan lawan pada posisi telapak tangan kanannya yang terbuka. Peganglah jari tangannya oleh tangan kiri sambil ditekuk ke atas. (gambar 4) -
Belitkan tangan kanan anda melewati bagian bawah tangan kanannya, kemudian cengkramlah leher lawan. (gambar 5) -
Putar badan anda ke kiri sambil berlutut, maka lawan anda akan jatuh telentang. (gambar 6)        -
Lawan anda (kiri) berdiri tegak siap melakukan serangan, dan anda (kanan) siap menghadapi serangan pukulan. (gambar 1) -
Lawan anda melangkahkan kaki kanan sambil melakukan serangan pukulan ke arah perut anda, anda dengan cepat menghindarkan serangan pukulan lawan dengan mempergunakan pergelangan tangan kiri (gambar 2) -
Masukan tangan kanan anda dengan cepat ke dalam lengan kanan bagian atas lawan sampai pergelangan tangan kanan anda menempel, sementara pergelangan tangan kiri anda mendorong tangan kanan lawan ke atas. (gambar 3) -
Dengan tidak di duga sebelumnya oleh lawan, sisi ibu jari bagian belakang anda menarik lengan kanan bagian atas lawan ke belakang bersamaan dengan pergelangan tangan kiri anda mendorong tangan kanan lawan ke samping kiri, sehingga tangan lawan anda terkunci. (gambar 4) -
Lawan anda dengan cepat melakukan pembelaan dirinya dengan cara mendorong sikut kanan anda ke atas, dengan maksud menghindarkan gerakan anda, tetapi anda telah mengontrol gerakan lawan sebelumnya sehingga gerakan lawan dapat diketahui. (gambar 5) -
Bersamaan dengan itu tangan kanan anda memegang pergelangan tangan bagian atas lawan sambil menekannya ke bawah sementara tangan kiri anda dengan cepat memegang jari tengah tangan kiri lawan, sehingga posisi lawan menjadi terlentang, (gambar 6) -
Kemudian anda melanjutkan gerakan selanjutnya dengan cara memutarkan pegangan tangan kanan ke sebelahkanan menkan pergelangan tangan kanan bagian atas lawan, bersamaan dengan tangan kiri anda tetap mengunci jari tengah tangan kiri lawan sehingga gerakan lawan anda menjadi terkunci dan tidak berkutik. (gambar 7) Sumber : Duel Online (http://duel.melsa.net.id/SilatKnc01.html)
RASA adalah kata yang umum di gunakan dalam beladiri silat khususnya di daerah jawabarat dan betawi. banyak perguruan yang menggunakan istilah ini dalam setiap kaedah yang di milikinya. istilah RASA pun menjadi sesuatu yang sering di kemukakan ketika orang melakukan bersambung tangan (Sparring). contohnya pada permaenan maenpo yang merupakan ciri khas beladiri jawabarat (seperti maenpo cikalong, cikaret, sabandaran, kari, madi dll) istilah rasa di gambarkan terbagi atas 3 hal yaitu - Rasa Antel (rasa nempel) - Rasa Anggang (rasa jauh) - Rasa Sinar dari beberapa diskusi dan apa yang penulis pahami tentang rasa, banyak sekali yang menggambarkan rasa adalah insting/feeling. Rasa ini di kaitkan dengan bagaimana kita mengenali dan memahami setiap gerak lawan dan memberikan antisipasi yang terbaik, dengan maksud untuk membendung (blocking), mengalirkan maupun mengcounter lawan. dan yang paling utama adalah memenangkan setiap pertempuran/perkelahian. Rasa vs. Teknik Apa yang saya diskusikan disini hanya terbatas pada pemahaman rasa antel (nempel) yang terjadi karena adanya kontak fisik antara kita dengan lawan kita. bagi saya gambaran rasa dalam silat ibarat seorang pembalap mengendarai mobil F1-nya, seperti seorang gitaris memainkan gitarnya seperti seorang petinju bertinju di atas ring. rasa akan tergantung pada alat/cara berlatih dan jam terbang dari setiap individunya. Bagaimana kita membedakan rasa dengan teknik murni, ini sama saja dengan membandingkan feeling seorang supir dengan teknik mengendarai sebuah kendaraan. atau feeling seorang dokter bedah dengan teknik melakukan pembedahan Teknik hanya ada di area cara, cendrung baku dan sifatnya tekstual, bagaimana mengendarai kendaraan tentu saja kita tinggal lihat di buku manualnya itulah teknik. namun kepiawaian si supir dalam berkendaraan atau teknik teknik bertinju seseorang petinju profesional akan sangat berbeda dengan teknik standar. sedangkan rasa lebih kepada insting dan reflek yang terjadi akibat jam terbang/pengalan dalam menggunakan teknik yang ada. penjelasan di atas sebenarnya untuk menggambarkan bahwa meski memiliki jurus yang sama misalnya 10 jurus dan hanya itu itu saja yang dilatih tetapi Rasa dari setiap pesilat tidak bisa di samakan. Rasa akan tergantung jam terbang (pengalaman) dan seberapa sering seseorang mengalami kondisi sulit dan terdesak. maksud saya sampai kapan pun seorang murid yang sudah menguasai 10 jurus tertinggi tidak akan pernah bisa melampaui kemampuan rasa Sang Guru meski dari sisi jurus yang di kuasai sama. Kecuali jika si murid berlatih pada orang lain yang rasanya lebih tinggi dari gurunya. Rasa vs. Tenaga Pada umumnya pemahaman rasa ini (sekali lagi ini pada pemahaman rasa antel/nempel) tidak lepas dari pemahaman tentang tenaga dan mengenali tenaga lawan. sehingga di kenal adanya tenaga kosong, isi dan tenaga setengah. Rasa yang sudah terlatih dengan baik akan dengan mudah memahami dan mendeteksi maksud dan tujuan serta arah tenaga lawan, seperti halnya cekatannya seorang pembalap di jalan berkelok, Turunan, Tanjakan bahkan di jalan licin dan bergelombang. Pemahaman tentang merasakan tenaga lawan inilah yang menjadi kunci utama dalam permainan Rasa (khususnya rasa antel/Nempel). Pemahaman penggunaan tenaga setengah untuk mengontrol tenaga lawan, tenaga isi untuk mendesak/Menyerang lawan dan tenaga kosong untuk mengalirkan/Membuang serangan lawan menjadi sesuatu yang menarik untuk di cermati dan di pelajari. Kombinasi kapan kita melakukan isi, kosong dan setengah dari tenaga yang kita keluarkan ini tentu saja sangat sesuai dengan hukum fisika aksi-reaksi. sehingga amatlah tepat ketika di kemukakan bahwa lawan isi adalah kosong sedangkan lawan kosong adalah isi. Rasa vs. Niat Niat berperan penting dalam permainan rasa, dimana dalam kondisi terdesak dengan waktu yang sangat sempit sepersekian detik tubuh kita harus segera bereaksi dan merespon gerakan lawan. nyaris tidak ada waktu untuk berfikir yang ada adalah kecepatan dan insting/feeling dalam meresponse serangan lawan. Faktor niat menjadi penting ketika kita berniat dzalim maka setiap response kita akan berakhir dengan cedranya lawan kita atau ketika kita niat menyelamatkan lawan kita maka response badan kita akan menyelamatkan lawan kita Rasa vs. Pernapasan Pemahaman rasa tidak lepas dari tenik pengolahan napas, karena sumber tenaga adalah napas sehingga kemampuan kita dalam mengolah napas untuk sebagai sumber tenaga sangatlah penting. Pernapasan adalah salah satu cara mengoptimalkan penggunakaan tenaga dalam setiap perkelahian, sudah banyak bukti bahwa pada akhirnya yang napasnya kuat/panjang yang akan menang ketika kita berhadapan dengan lawan yang seimbang baik dari sisi teknik maupun pengalaman. Rasa yang terlatih akan bisa memahami dengan mudah ujung dari setiap serangan, seperti beberapa tokoh silat mengemukakan bahwa ujung tenaga adalah ketika napas kita habis dan berganti dari menahan atau membuang napas menjadi menarik napas. ini terjadi sepersekian detik sebelum menarik napas. Untuk membuktikannya bisa di coba dengan melakukan gerakan mendorong atau memukul sambil menarik napas, bagaimana tenaga yang di hasilkan dengan cara ini? bandingkan jika kita memukul dengan menahan napas (mepet) atau membuang napas, Bagaimana perbedaan hasilnya. Rasa vs. Jurus Rasa yang baik akan di hasilkan dari jurus yang memang di tujukan untuk melatih rasa secara optimal, jurus jurus yang bertujuan melatih rasa biasanya bukan yang sifatnya keras melaikan yang dilatih dengan tujuan merasakan setiap pergerakan lawan agar badan kita bisa sensitif terhadap arah serangan dan tenaga yang dilakukan lawan terhadap kita Demikian sedikit pembahasan rasa, yang saya bahas disini. meski hanya terbatas pada pemahaman rasa antel/nempel mudah mudahan pembahasan ini bisa membuka wacana dan diskusi yang menarik tentang pemahaman konsep rasa itu sendiri Hari raya, Saatnya bermaaf maafan. bukan hanya menghabiskan waktu untuk makan makan dan jalan jalan. pada dasarnya manusia selama hidupnya menghasilkan 2 hal utama. yaitu amal baik yang nantinya akan di ganjar oleh tuhan dengan pahala. dan amal buruk yang nantinya akan di ganjar oleh tuhan dengan dosa. amal baik akan berbuah surga, amal buruk berbuah neraka. amal buruk manusia terbagi 2 yaitu amal buruk atau dosa terhadap tuhan yang bisa di hilangkan dengan taubatan nasuha, dan amal buruk terhadap sesama manusia yang hanya bisa di hilangkan dengan saling memaafkan. untuk itu perkenankan saya memohonkan maaf lahir bathin sebesar besarnya atas segala kesalahan yang pernah saya buat. Istilah MAEN di betawi jaman dulu identik dengan permainan silat yang di kuasai oleh seseorang. pertanyaan seperti "Maenannya ape Bang?" sama saja bertanya bisa silat apa Bang? Maka istilah maen pukulan, maen ujungan menjadi salah satu istilah yang umum di gunakan di kalangan pemuda jaman baheula di betawi. Demikian juga di jawabarat kala itu (baca jaman normal = Jaman dulu), orang tidak pernah mengucapkan saya bisa silat A, B atau C. Karena bisanya orang lebih suka menyebutnya Ulin untuk aliran silat yang di kuasai. maka istilah "Tukang Ulin" atau tukang penca lebih populer di bandingkan jago silat. Selain istilah Ulin, ada juga Ameng yang artinya sama yaitu permainan meski secara bahasa ameng lebih halus dari Ulin tetapi maksud dan tujuannya sama yaitu permainan silat yang di kuasai. Istilah lain adalah Usik, istilah ini di gunakan di wilayah parahiyangan yang berarti gerak. orang tua dulu sering juga menggunakan istilah "Tukang Usik" buat seseorang yang memang ahli silat dan senang menjajal para pendekar lainnya. Istilah usik sering di gunakan untuk menggambarkan permainan silat antara 2 orang ahli silat. maka istilah "usik-usikan" di maksudkan untuk 2 orang yang saling beradu teknik silat (bukan duel). Kata Gerak juga di kenal di beberapa aliran silat, seperti Gerak Rasa, Gerak Saka, Gerak Sanalika. yang kalau secara bahasa sama artinya dengan Usik. artinya permainan gerak tangan, kaki dan badan. Orang dulu tidak mengenal istilah beladiri, istilah maen, ulin/ameng ataupun usik mungkin lebih populer. seperti istilah maen po cikalong = Ulin Cikalong = Amengan Cikalong = Usik Cikalong. Istilah pencak silat mulai di kenal setelah indonesia merdeka, dengan menggabungkan kata silat yang berasal dari kata melayu dan pencak yang berasal dari kata jawa. daerah sunda sendiri lebih mengenalnya Penca Bismillahi Rohman Nirrohiem, Telah tiba hari pertama kita menjalankan ibadah Puasa di bulan ramadhan 1428 H ini, sudah banyak rekan wikimuer yang mengulas tentang ramadhan ini dari bebagai sisi dan sudut pandang sesuai dengan interes dan pemahaman masing-masing. Pada kesempatan kali ini perkenankan saya sedikit menuliskan apa yang saya dapatkan dari ceramah subuh yang saya ikuti di Masjid Baitul Mugni Jl. Gatot Subroto selepas subuh tadi yang di sampaikan oleh Ust. Dr. Lutfi Fatturahman. Hal yang menarik dari pelajaran ceramah subuh kali ini adalah dalam hal mengupas kehidupan seorang muslim di kaitkan dengan ibadah puasa yang menjadi kewajiban seorang islam. Dimana tujuan akhir setiap manusia adalah mati, dan setelah mati maka phase kehidupan berikutnya ada 2 pilihan yaitu masuk syurga atau masuk neraka. Dalam kasus ini ada terdapat dua nilai penentu yang mempengaruhi akhir perjalanan seorang manusia yaitu amal baik (amal shaleh) yang akan menghantarkan manusia masuk kedalam syurga dan amal buruk (amal munkar) yang akan menghantarkan manusia masuk neraka jika jumlahnya lebih banyak dari amal baik. Sebagai gambaran mari kita tafakkuri berapa lama kita melakukan ibadah kepada NYA dalam 1 hari, misalkan kita melakukan shalat 5 waktu selama 10 menit setiap shalatnya maka kita akan mendapatkan 50 menit dalam 1 hari kita beribadah dan di tambah berzikir selama 10 menit sehingga paling tidak kita beribadah dalam 1 hari hanya 60 menit. Ini artinya kita beribadah kepada Alloh hanya 1/24 jam dari waktu yang di berikan oleh tuhan kepada kita. Sangat jauh dari cukup bukan? Bagaimana 1/24 jam ini bisa melawan godaan perbuatan munkar yang selalu menggoda yang bisa saja mengoda kita lebih dari ½ Hari (12/24 Jam) ? Namun tuhan sangat mengetahui akan kelemahan umatnya, karenanya waktu shalat pun di sebar dalam 5 waktu dengan harapan kita akan senantiasa ingat kepadanya dan memperbanyak perbuatan amal shaleh dan menjauhi perbuatan mungkar Balik lagi ke pembahasan puasa, dari satu surat dalam Al-Quran tentang kewajiban berpuasa dan tujuan dari puasa ini adalah “La allakum Tattaquun” Agar kita menjadi orang yang taqwa. Secara Syar’I (syariat-hukum) Taqwa sendiri di definisikan sebagai ‘Imtisanu ala mirrillah, Wajtinabu Nawahihii’ yaitu menjalankan perintah Alloh dan menjauhi Larangannya. Nah dengan definisi ini kita bisa menarik kesimpulan berapa banyak orang yang “Sukses” menjalankan puasa dan mancapai Taqwa yang berhasil meningkatkan level dan kualitas yang selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi Larangannya? Seperti dikemukakan Nabi dalam haditznya “Banyak orang yang berpuasa hanya menahan Lapar dan haus Belaka”. Dalam ajaran islam setiap muslim dikelompokkan dalam beberapa kelompok berdasarkan ibadah dan pemahaman akan agamanya : 1. Mu’min, yaitu orang yang beriman kepada alloh dengan memahami dan menjalankan rukun iman yang 6 a. iman kepada alloh b. iman kepada malaikat c. iman kepada kitab-kitab d. Iman kepada Nabi Alloh e. Iman kepada Hari Akhir f. Iman kepada Takdir Alloh 2. Muslim, Yaitu orang yang sudah beriman kemudian memahami dan menjalankan rukun islam a. Mengucapkan 2 kalimat syahadat b. Mendirikan Shalat c. Menunaikan Zakat d. Berpuasa di bulan ramadhan e. Menunaikan Ibadah Haji Jikalau mampu 3. Muttaqin, Yaitu seorang mu’min yang muslim yang selalu menjalankan perintah perintah Alloh dan menjauhi Larangannya Demikian sedikit rangkuman ceramah subuh hari ini, ternyata untuk bisa menjadi taqwa tidak mudah, banyak sekali godaan dan cobaan yang harus di taklukkan. Mudah mudahan kita semua berhasil mencapai kemenangan menjadi seorang Muttaqin. Pencak silat tidak diragukan lagi merupakan salah satu budaya bangsa yang sangat berperan dalam sejarah perjuangan bangsa ini dari sejak jaman kolonialisme sampai jaman perang kemerdekaan. Tulisan ini di buat dalam rangka memperingati 63 tahun kemerdekaan Indonesia dan sebagai pengantar atas acara Wikimu on air yang disiarkan oleh D-Radio 103.4 FM pada tanggal 18 Agustus 2008 jam 10.00 - 11.00. Awal mula Sejarah mencatatat bahwa manusia mengembangkan kemampuan beladiri untuk bertahan hidup, kemampuan beladiri ini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Beberapa aliran kuno di nusantara memiliki hikayat dan metos bagaimana aliran itu di ciptakan yang sebagian besar nenek moyang kita belajar beladiri kepada binatang atau mengikuti tingkah polah binatang (seperti pada mitos silat cimande, silat bawean, silat melayu). Sebagian besar di lukiskan belajar pada tingkah binatang seperti monyet, macan, ular dan burung. Beladiri pada perkembangannya digunakan pula sebagai alat untuk memperluas kekuasaan dan mempertahankan kedaulatan kelompok masyarakat yang pada akhirnya pemahaman dan penguasaan beladiri dan kesaktian menjadi sarat untuk menentukan posisi sosial dan politik di masyarakat kala itu. Demikian pula dengan kerajaan - kerajaan di nusantara dimana beladiri ini di ajarkan di lingkungan terbatas dan tidak di ajarkan secara bebas kepada masyarakat umum. Tercatat kerajaan kerajaan seperti Sriwijaya dan Majapahit kala itu memiliki bala tentara yang sangat cakap dalam berperang dan ahli dalam beladiri sehingga bisa memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas pada jamannya. Demikian pula dengan kerajaan Sunda Pajajaran yang tercatat pernah mengalami pertikaian dengan Majapahit pada kasus Puputan Bubat dimana tercatat dalam sejarah semua pengiring putri Pajajaran bertempur sampai darah penghabisan dengan menggunakan paling tidak 7 jurus silat yang di kuasai para pasukan Pajajaran kala pertempuran Bubat terjadi. Pengajaran silat Pencak silat mulai berkembang dan melembaga sebagai salah satu mata pelajaran pada masa itu hanya di ajarkan di lingkungan keraton dan lembaga mandala. Di keraton dan istana silat diajarkan pada lungkungan keluarga istana, penggawa sampai pasukan perang. Sedangakan di mandala, silat dan ilmu kebatinan di ajarkan para pendeta dan rohaniawan kala itu, rakyat jelata tidak bisa belajar beladiri begitu saja. Ada status social dan ada aturan yang membatasi penyebaran ilmu beladiri dan kanuragan pada masa itu. Pada masa awal islam masuk ke bumi nusantara kebiasaan pengajaran beladiri di wiyatamanda ini dilanjutkan, dengan mengajarkan juga silat dan beladiri di lingkungan pesantren guna membantu penyebaran agama islam kala itu. Sehingga akhirnya rakyat bisa mendalami pencak silat ini dan peranan pesantren dan kerajaan islam kala itu sangat besar dalam membantu penyebaran silat di nusantara. Kebiasaan ini melekat sampai sekarang, budaya solat dan silat masih di pegang teguh pada silat betawi dan Sumatra, kebiasaan berlatih silat di halaman surau setelah shalat isya sampai jam 24 malam menjadi hal yang biasa. Keterikatan antara guru dan murid disimbolkan dengan pengangkatan anak sasian pada silat minang, dimana murid di angkat sebagai anak dari guru. Istilah "lahir silat mencari kawan dan bathin silat mencari tuhan" menjadi sangat popular di tanah minang. Bahkan tinggal di surau dan bersilat sudah merupakan ‘Live Style' bagi para pemuda minang kala itu. Masa kolonialisme Silat mulai digunakan sebagai alat perjuangan ketika masa kolonialisme, dimulai dengan pengusiran pasukan Portugis dari Batavia oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahilah, tercatat puluhan ribu pasukan dari mataram, Cirebon dan sekitarnya bergerak guna menghalau pasukan Portugis dari Batavia. Belum lagi perjuangan masyarakat Banten dalam mengusir Belanda yang menghasilkan kebudayaan Debus. Kebudayaan ini dulu di gunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri pasukan Banten dalam melawan pasukan Belanda. Pertempuran antara Banten dan Belanda ini berakhir setelah Belanda melakukan politik adu domba yang mengakibatkan ratanya istana kerajaan Banten. Perjuangan melawan kolonialisme tidak luput dari penggunakaan silat sebagai alat untuk membela bangsa kala itu, tercatat pertempuran yang paling besar dalam sejarah kolonialisme belanda adalah perang Diponegoro yang menyebabkan kebangkrutan dari VOC. Kyai Mojo yang merupakan guru sekaligus penaset spiritual Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap oleh Belanda dan di buang ke daerah Tondano di Sulawesi utara. Di Tondano ini beliau tinggal di daerah Jaton (Jawa Tondano) beserta para pengikutnya yang kemudian mengajarkan pelajaran agama dan beladiri pada masyarakat sekitar yang sampe saat ini masih dilestarikan dan dikenal dengan Silat Tondano yang sampai sekarang masih di kembangkan dengan nama "Perguruan Satria Kyai Maja". Masa Kolonialism
Pada masa kolonialisme pengajaran silat di awasi dengan ketat karena di anggap membahayakan keberadaan penjajah kala itu, intelegen sangat memperhatikan siapa saja yang bisa silat dan mengajarkan silat kepada masyarakat dianggap membahayakan dan di jebloskan kepenjara. Ini sangat berpengaruh pada pola pengajaran pencak silat, sehingga pengajaran silat beladiri mulai sembunyi sembunyi dan biasanya di ajarkan dalam kelompok kecil dari rumah ke rumah pada malam hari. Belanda juga memanfaatkan para jawara dan ahli silat yang mau bekerja sama dengan belanda untuk menjadi opas dan centeng guna menjaga kepentingan para meneer dan tuan tanah kala itu, sehingga tidak jarang terjadi pertikaian dan pertempuran antara para jawara silat ini dengan para pendekar pembela rakyat jelata. Kisah pitung menjadi satu legenda yang terkenal di masyarakat Betawi karena keberaniannya melawan para jawara dan kompeni guna membantu rakyat yang lemah. Karena pengawasan sosial ini pulalah, maka mulailah di kembangkan silat seni dan ibingan, guna menutupi kesan silat sebagai beladiri, Atraksi ibingan silat ini sangat terkenal dan di tunggu tunggu oleh masyarakat. Orang bisa melihat atraksi silat di upacara perkawinan atau khitanan bahkan pasar malam tanpa di ganggu oleh pihak keamanan pada saat itu karena di anggap sebagai hiburan. Disinilah mulai di kenal istilah silat kembagan (atau kembang) yang biasanya di tujukan pada silat ibingan dan silat buah yang di tujukan pada silat sebagai beladiri. Kesadaran Nasionalisme Dimulai dengan adanya kesadaran politik baru pada awal abad XX dan kebijaksanaan belanda yaitu Etische politiek, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat lewat berbagai program khususnya pendidikan, Peningkatan peranan desa dan di bentuknya polisi desa. Memilik pengaruh pada pola pengajaran silat pada masa itu, silat sudah mulai di ajarkan di sekolah sekolah dasar (desascholen), bahkan kalangan yang dekat dengan belanda seperti priyayi, amtenaren, KNIL bahkan marechausse pasukan khusus Belanda kala itu. Berjalan dengan timbulnya rasa nasionalisme, maka timbul pula pertetangan di kalangan para pengajar pencak silat (perguruan) pada saat itu tentang siapakah yang berhak mempelajari silat ini. Bolehkah silat di ajarkan pada kaum bangsawan, amtenaren atau hanya untuk bumi putra? Kesadaran akan nasionalisme ini semakin menguat ketika pada tahun 1915 di buka kesempatan untuk mendirikan organisasi politik bagi kalangan bumi putra, pengajaran silat menjadi salah satu materi yang diajarkan di setiap organisasi ini. Seperti pada perkembangan awal Syarikat Islam di daerah Jawa yang diikuti oleh berdirinya persaudaraan Setya Hati oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo yang menyebabkan Belanda sangat mengawasi perkembangan perguruan ini karena memiliki pengikut dan murid yang banyak sekali. Ki Ngabehi Surodiwiryo ini melatih para murid MULO yang pada akhirnya banyak yang menjadi tokoh nasionalis. Termasuk juga mantan Presiden Sukarno yang Tercatat pernah belajar silat kepada Ua Nampon di Bandung, ini menunjukkan betapa silat sangat berperan dalam meningkatkan rasa kepercayaan diri dan keberanian dalam membela kebenaran. Masa Penjajaran Jepang Pada masa penjajahan jepang mulanya menghawatirkan silat di gunakan untuk melawan jepang, namun ternyata tidak di semua tempat terjadi perlawanan terhadap Jepang (sang saudara tua). Akibatnya silat berkembang cukup baik di beberapa daerah bahkan pemerintah jepang yang pada saat itu selain membawa budaya beladirinya ke tanah air seperti karate, judo dan jujitsu. Mereka belajar silat dari para pendekar kita sehingga terjadi pertukaran budaya. Tentara PETA (pemuda pembela tanah air) di ajarkan beladiri Jepang guna berperang melawan Sekutu. Silat mengalami masa militerisasi karena menjadi bagian dari pendidikan militer. Pengajaran silat dilakukan kepada tentara Dai Nippon dan pasukan peta dengan disiplin militer yang sangat ketat. Masa perjuangan kemerdekaan Silat menjadi bagian yang tidak bisa di pisahkan dalam perang fisik melawan Sekutu dan Jepang, Sebagai salah satu contoh adalah hasil pendidikan PETA yang dienyam oleh I Gusti Ngurah Rai selama pendidikan di Jawa Barat yang kemudian di ajarkan secara sembunyi - sembunyi kepada pasukannya, pendidikan silat ini sangat berpengaruh dalam perjuangan bahkan pada bentuk silat khas Bali. Silat Bali sekarang banyak di pengaruhi oleh aliran silat dari Jawa Barat. Pasukan Hisbullah yang di bentuk di pesantren Buntet Cirebon selain mendapatkan pelatihan yang berat selama Pendidikan PETA, para tokoh ulama dan jawara pergabung dalam pasukan ini guna melawan penjajahan Belanda. Pasukan Hisbullah yang di kenal dengan pasukan Hizbullah Resimen XII Divisi I Syarif Hidayat ikut juga bertempur pada tanggal 10 November di Surabaya, dan berperan serta aktif ketika terjadi gencatan senjata dalam perjanjian Renville. Penutup Demikian sekilas tentang perkembangan silat dan kaitannya dalam perjuangan bangsa, masih banyak lagi peranan silat dalam membangkitkan semangat juang para pejuang dan pendekar dalam membela kemerdekaan bangsa ini semasa revolusi fisik dulu. Mudah mudahan tulisan ini membangkitkan rasa nasionalisme dan kecintaan pada budaya tanah air khususnya silat yang merupakan warisan luhur dari budaya bangsa kita. Sumber : - Silat Merentang Waktu (Oong Maryono) - Catatan : Gusman Natawidjaja - dan beberapa sumber lainnya NB: Tulisan ini sudah saya muat pula di www.wikimu.com berikut linknya : http://www.wikimu.com/News/displaynews.aspx?id=10070 
Pada tulisan kali ini saya mencoba membahas aplikasi blind spot yang sengaja di buat dengan menggunakan teknik gerakan pivot (pivot move), dimana kita berusaha keluar dari jarak pandang lawan, sehingga mendapatkan posisi yang sempurna untuk menyerang lawan. pada kasus ini saya mengambil contoh dari buku "How Wing Chun Work", yang di dalamnya salah satunya membahas teknik pivot move dalam mencounter serangan lawan terhadap kita. topik pivot move pada wing chun ini saya pilih sebagai khasus pada bagaimana mendapatkan posisi blind spot yang ada kemiripannya dengan beberapa aliran silat di tanah air. Posisi blind spot yang di cari adalah posisi dimana kita posisi kita masuk ke arah blind spot lawan, dengan arah hindaran kesisi luar lawan. bentuk seperti gambar di samping. arah hindaran ke kiri luar dan maju kedepan kearah samping lawan dan bukan menghindar dan mundur ke belakang.cara ini di tempuh agar lawan tidak berkesempatan untuk melakukan bloking atau memberikan serangan susulan.  jika kita perhatikan dari posisi persia pan sa mpai eksekusi serang an kepada daerah blind spot lawan maka akan kita lihat posisi dimana panda ngan lawan terhala ng oleh tangan kanannya sendiri yang di blok oleh tangan kanan kita. seperti tampak pada gambar posisi hindaran yang dilakukan membentuk segitiga yang di akhiri dengan masuknya serangan kita kearah samping luar lawan untuk jelasnya aplikasi dari pivoting movement ini bisa di lihat pada gambar berikut ini, bentuk movement yang di sebut pivot seperti di atas banyak di jumpai pada beladiri silat, dan pada aplikasinya dilakukan dengan menggunakan teknik sambut luar. semoga berguna dan bermanfaat  Sumber : How Wing Chun work Oleh Prof. Dr. NINA H. LUBIS, M.S. HINGGA 2006, jumlah pahlawan nasional bangsa Indonesia baru 136 orang. Hanya delapan orang yang berasal dari kalangan ulama, 2 orang di antaranya berasal dari Jawa Barat, yaitu K.H. Zaenal Mustofa dari Singaparna (Kabupaten Tasikmalaya), dan K.H. Noer Alie dari Kabupaten Bekasi. Apakah ini berarti ulama kurang berperan dalam perjuangan meraih kemerdekaan? Agaknya bukan itu penyebabnya, namun peran para ulama, para kiai belum banyak digali para peneliti. Di Jawa Barat, ada banyak kiai, ulama yang berjuang sejak abad ke-19 hingga masa perang kemerdekaan Dalam menghadapi pengaruh penetrasi Barat satu-satunya jalan yang dapat ditempuh adalah melakukan gerakan sosial sebagai bentuk protes sosial. Demikian juga yang terjadi di berbagai tempat di Tatar Sunda, termasuk di Kabupaten Kuningan. Gerakan sosial yang terjadi di daerah ini dilakukan oleh Kiai Haji Hasan Maolani (1779-1874) dari Desa Lengkong. Masyarakat mengenalnya sebagai “Eyang Menado” karena ia diasingkan ke Menado (meskipun sesungguhnya diasingkan ke Tondano, sebelah selatan Menado), selama 32 tahun hingga meninggal dunia di sana. Sumber-sumber yang memberitakan adanya gerakan ini sangat terbatas. Pertama sekali dilaporkan dalam Laporan Politik Pemerintah Kolonial tahun 1839-1849 (Exhibitum, 31 Januari 1851, no. 27). Kemudian disebutkan pula dalam tulisan E. de Waal, yang berjudul Onze Indische Financien, 1876, secara sangat singkat. Selanjutnya, diuraikan cukup panjang, dalam disertasi D.W.J. Drewes, yang berjudul Drie Javaansche Goeroe’s (1925). Baru tahun 1975 A. Tisnawerdaya, menulis biografi ringkas Kiai Hasan Maolani. Hingga sekarang masih ada peninggalan K.H. Hasan Maolani, berupa bangunan rumah panggung berdinding anyaman bambu dan benda-benda milik pribadi. Selain itu, masih ada tinggalan berupa naskah yang ditulis di atas kertas dengan tinta hitam dan merah. Naskah berjudul Fathul Qorib, ini ditulis dalam huruf Arab pegon, berbahasa Jawa campur Sunda. Peninggalan berharga lainnya adalah kumpulan surat-surat yang dikirim Kiai Hasan dari pengasingannya. Silsilah K.H. Hasan Maolani dilahirkan pada 1199 Hijriah atau 1779 Masehi di Desa Lengkong, sekarang termasuk Kecamatan Garawangi Kabupaten Kuningan. Menurut silsilahnya, Kiai Hasan Maolani, memiliki leluhur hingga kepada Sunan Gunung Jati. Ketika Hasan Maolani dilahirkan, Panembahan Dako, seorang kiai yang makamnya banyak diziarahi orang karena kekeramatannya, mengatakan bahwa anak ini benar-benar cakap dan memiliki “bulu kenabian”. Maksudnya, memiliki tanda-tanda akan menjadi ulama. Sejak kecil anak ini dikenal memiliki sifat-sifat yang baik. Hatinya lembut berbudi luhur, sayang kepada sesama makhluk, termasuk binatang. Sejak kecil, Hasan Maolani suka menyepi (uzlah) di tempat-tempat yang jarang dikunjungi orang, setelah dewasa ia sering menyepi di Gunung Ciremai. Hasan mula-mula menimba ilmu di Pesantren Embah Padang. Setelah itu, ia menimba ilmu di Pesantren Kedung Rajagaluh (Majalengka) dan Pesantren Ciwaringin, Cirebon. Selain itu, Hasan masih belajar lagi di beberapa pesantren lain. Setelah dewasa, Hasan Maolani, belajar tarekat: Satariyah, Qodariyah, Naksabandiyah, dst. Namun, akhirnya Hasan Maolani menganut tarekat Satariyah. Sekembali dari berguru di beberapa pesantren, Hasan Maolani kembali ke desa asalnya di Lengkong dan membuka pesantren. Kiai keramat Sejak ia membuka pesantren, berduyun-duyun orang yang datang ingin menjadi santrinya. Jumlah santri yang mondok cukup banyak hingga 40 pondok yang disediakan tidak mampu menampungnya. Selain itu, makin hari makin banyak orang datang kepada K.H. Hasan Maolani untuk berbagai keperluan, mulai dari berobat hingga meminta tolong untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup. Tentu saja, adanya orang berkumpul setiap hari, dalam jumlah banyak mengundang kecurigaan pemerintah kolonial, yang baru saja usai menghadapi Perang Diponegoro (1825-1830). Salah satu ajaran Kiai Hasan Maolani, yang penting dan dianggap membahayakan pemerintah kolonial adalah tentang “jihad”. Ajaran yang ditulisnya dalam Fathul Qorib demikian: “Jika sekiranya para orang kafir memasuki negeri Muslimin atau mereka bertempat yang dekat letaknya dengan negeri orang Islam, maka dalam keadaan yang demikian itu hukum jihad adalah fardlu ain bagi kaum Muslimin. Wajib bagi ahli negeri itu untuk menolak (menghalau) para orang kafir dengan sesuatu yang dapat dipergunakan oleh kaum Muslimin untuk menolak.” Jelas, bahwa Kiai Hasan Maolani memiliki kesadaran bahwa negerinya sedang dijajah. Kesadaran ini disampaikan kepada masyarakat, yang datang maupun yang jauh melalui surat-suratnya. Perang Diponegoro menyisakan pelajaran bagi pemerintah kolonial untuk segera meredam ajaran-ajaran yang dianggap membangkitkan kesadaran rakyat untuk menentang orang kafir (dalam hal ini pemerintah jajahan). Itulah sebabnya, pemerintah kolonial melalui kaki tangannya di Kabupaten Kuningan segera melancarkan tudingan bahwa Kiai Hasan Maolani dituduh menyebarkan ajaran yang tidak sesuai dengan syariah, menghasut rakyat untuk melakukan perlawanan. Padahal, ajaran-ajarannya seperti yang disebutkan di atas, tidak ada yang tidak sesuai dengan syariah. Dalam hal ini, kita bisa menduga apa motif pemerintah kolonial dalam melancarkan tuduhan kepada Kiai Hasan, tidak lain hanya untuk menjatuhkan nama Kiai Hasan di mata masyarakat pribumi dan mencari-cari kesalahannya. Residen Priangan setelah mendapat informasi mengenai surat edaran dan akibat yang ditimbulkannya, segera mengirim surat kepada Gubernur Jenderal di Batavia, menyampaikan usul agar kerusuhan itu harus diselidiki di Lengkong, Kabupaten Kuningan (Cirebon). Pengaruh Kiai Hasan Maolani semakin mendalam di kalangan penduduk, bahkan sampai merembet kepada para pemimpin pribumi. Hal ini dijadikan alasan oleh residen untuk menangkap Kiai Hasan. Residen Priangan menulis surat ke Batavia yang menyatakan bahwa rakyat lebih menghargai dan patuh kepada Kiai Hasan Maolani daripada kepada Bupati Kuningan. Residen juga melaporkan bahwa Kiai Hasan akan melawan “gubernemen” (pemerintah Hindia Belanda) dan ajarannya bertentangan dengan ajaran Islam. Kiai Hasan Maolani yang sederhana itu dengan kata-katanya yang dibuat sedemikian rupa, hingga dipandang sebagai orang yang mempunyai kekuatan luar biasa dan dilebihkan dari keistimewaan ulama lainnya, sungguh membahayakan masyarakat serta mengganggu ketenteraman jika kepentingan kiai tersebut mendapat angin. Pada bagian akhir suratnya, Residen Priangan menulis kata-kata “Saya berharap bahwa Paduka Yang Mulia akan mendapat alasan, juga dengan laporan yang telah diberikan oleh para bupati. mengenai orang tersebut, untuk mengasingkan Kiai Lengkong dari Pulau Jawa.” Diasingkan ke Tondano Melihat gerakan Kiai Hasan Maolani, yang semakin hari dianggap semakin berbahaya, pemerintah kolonial akhirnya mengambil tindakan Kiai Hasan harus ditangkap. Dalam catatan keluarga, Kiai Hasan Maolani dibawa oleh petugas pemerintah kolonial, pada Hari Kamis, tanggal 12 Sapar 1257 H (1837 Masehi) waktu asar. Dikatakan bahwa kiai akan dibawa menghadap kepada Residen Cirebon untuk dimintai keterangan. Namun ternyata, Kiai Hasan tidak pernah kembali. Ia ditahan di Cirebon. Ternyata setelah berada dalam tahanan di Cirebon, para murid, santri, dan masyarakat umum datang berduyun-duyun tiap hari menjenguk Kiai Hasan Maolani. Hal ini membuat pemerintah kolonial kewalahan. Oleh karena itu, diputuskanlah untuk memindahkan Kiai Hasan ke Batavia dengan diangkut kapal laut. Di Batavia, Kiai Hasan Maolani tetap saja mendapat kunjungan para murid dan santrinya dalam jumlah yang mengkhawatirkan. Oleh karena itu, setelah ditahan selama 9 bulan di Batavia, diambil tindakan lain: Dengan surat keputusan tanggal 6 Juni 1842, Kiai Hasan Maolani diasingkan ke Menado dengan status sebagai tahanan negara. Kiai Hasan ternyata dibawa terlebih dahulu ke Ternate, dari sini kemudian dibawa ke Kaema. Seratus hari kemudian, ia dipindahkan ke Tondano. Di sini Kiai Hasan tinggal di Kampung Jawa bersama pasukan Kiai Mojo (panglima pasukan Diponegoro) yang diasingkan dari Jawa Tengah. Pengasingan Ternyata selama di pengasingan, Kiai Hasan Maolani tidak tinggal diam. Di Kampung Jawa, ia mengajar bekas pasukan Diponegoro yang ingin mendalami agama Islam. Lama-kelamaan, makin banyak muridnya, termasuk orang sekitar. Banyak orang yang tadinya non-Islam berhasil diislamkan. Akhirnya, Kiai Hasan membuka pesantren, yang dikenal sebagai “Pesantren Rama Kiai Lengkong”. Semakin lama namanya tambah terkenal bukan karena kekeramatannya, namun juga karena ajarannya yang mudah dimengerti. Kiai Hasan juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan pertanian dan perikanan sebagaimana dilakukannya di Desa Lengkong dahulu. Putra kiai yang bernama Mohamad Hakim pernah mengajukan suatu permohonan kepada pemerintah agar ayahnya dikembalikan dari tempat pengasingannya. Namun, Residen Priangan yang dimintai pendapatnya tentang hal ini tetap berpegang pada pendiriannya. Ia tidak mau mengambil risiko dengan mengatakan bahwa seorang yang diasingkan belum tentu akan jera dengan hukuman yang ditimpakan kepadanya. Kemudian keempat orang putranya kembali mengajukan permohonan kepada pemerintah pada bulan Desember 1868, yang isinya menyatakan bahwa ayah mereka yang sudah berusia 90 tahun itu supaya dikembalikan ke Jawa. Semua permintaan ini ditolak karena Kiai Hasan dianggap terlalu berbahaya meskipun sudah diasingkan, pengaruhnya masih terasa. Para murid, santri, dan rakyat tetap menjalankan anjuran-anjurannya baik dalam beribadah ritual maupun ibadah sosial. Untuk ketiga kalinya, salah seorang putra Kiai Hasan Maolani mengajukan permohonan untuk menengok ayahnya di Menado. Semula Residen Cirebon menolak permohonan itu, tetapi setelah mendapat saran dari gubernur jenderal, barulah putra kiai yang bernama Kiai Absori diizinkan menengoknya ke Menado. Pada tanggal 29 April 1874 Kiai Hasan Maolani meninggal dunia dan dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kiai Mojo di Tondano. Kiai Hasan diasingkan begitu lama, namun namanya tetap melekat di hati rakyat Kuningan. Orang mengenangnya sebagai “Eyang Menado”. Makamnya banyak diziarahi orang, baik orang Kuningan maupun masyarakat setempat. Namun, yang perlu dilakukan sekarang adalah bagaimana kita memberikan penghargaan atas perjuangannya. Rasanya bukan hanya masyarakat Kuningan yang setuju agar K.H. Hasan Maolani diangkat sebagai pahlawan nasional. Semoga.*** Penulis, guru besar ilmu sejarah Universitas Padjadjaran Bandung. Sumber : HU. Pikiran Rakyat Berikut beberapa kaedah silat (khususnya sunda) yang banyak di pegang oleh beberapa aliran penca dan menpo di tatar pasundan. "Siga Euwueh padahal aya" - Seperti tiada padahal ada. "Teu Numpang keun rasa" - tidak menumpangkan rasa. "Ulah miheulaan, teu meunang ka piheulaan" - jangan mendahului tetapi jangan keduluan. ini beberapa kaedah pertarungan yang biasa di gunakan dalam penca, dan tentunya masih banyak lagi perinsip dan kaedah pertarungan yang banyak di pakai sebagai 'angkeuhan' pegangan kala bersambung tangan (bertarung) kita mulai bahas dari dari kaedah yang pertama "siga euweuh padahal aya", terjemahan bebasnya "seperti ada padahal tiada". ini mengandung arti bahwa gerakan silat harus bisa menyembunyikan maksud dan tujuan yang tidak tergambar dalam gerak. pada aplikasinya kaedah ini bertujuan agar musuh mengira bentuk dan posisi gerak kita seperti lemah padahal ini adalah pancingan agar musuh mengira lemah. sedangkan kaedah yang lain "teu numpangkeun rasa", tidak menumpangkan rasa pada musuh artinya tidak memancing rasa musuh atau tidak merendahkan rasa musuh. pesilat yang berhati hati akan senantiasa "tarapti" dan tertib ketika menghadapi lawan. karena pada kenyataannya pada real fighting sesungguhnya kita tidak tahu seberapa ahli lawan kita. yang ketiga "ulah miheulaan, teu meunang ka piheulaan", pada kaedah ini di gambarkan bahwa pesilat tidak boleh mendahuluin menyerang lawan. ini sangat rasional ketika kita melakukan serangan pada lawan sesungguhnya kita sedang membuka pertahanan kita. sehingga resiko harus menerima counter dari lawan dalam kondisi lawan lebih siap dari kita akan sangat mungkin terjadi. tetapi ini harus di barengi dengan jangan sampai keduluan sama lawan. menunggu bukan berarti membiarkan serangan lawan masuk, namun menunggu serangan lawan sampai kita bisa bergerak sepersekian detik sebelum lawan akan bergerak ini di terapkan dalam konsep intercept pada pertarungan silat awal, tengah dan akhir. SEJARAH SINGKAT SILAT BANDRONG Oleh : Nasrudin Attijani Pada waktu Sultan Maulana Hasanudin dinobatkan menjadi sultan di Banten ( 1552-1570 ), beliau mempunyai seorang patih yang bernama kiayi semar ( Ki semar ), beliau berasal dari kampong kemuning Desa tegal luhur . Sang patih pada hari jum’at selalu izin kepada sultan untuk kembali ke kampungnya karena pada hari tersebut ia berdagang daging kerbau di pasar Balagendong Desa Binuangeun ( dulu Kecamatan ). Pada suatu hari ketika Ki semar sedang berjualan dilapaknya tiba – tiba datanglah seseorang yang akan membeli dagangannya, orang itu bernama Kiayi Asyraf ( Ki Sarap ) tujuannya untuk membeli limpa atau sangket. Tapi oleh Ki Semar keinginan si pembeli di sepelekan karena dianggapnyaorang miskin tak akan mampu membeli sangket yang harganya sangat mahal, padahal Ki sarap sebenarnya ingin untuk membelinya. Karena Ki sarap memaksa untuk membeli sedangkan Ki semar tetap bertahan tidak mau menjualnya, sehingga suasana menjadi tegang, kemudian terjadilah pertangkaran mulut, dan akhirnya terjadilah bentrokan fisik. Tangan Ki Sarap di kelit ditekuk dibelakang punggung, dan dengan angkuh serta melecehkan, Ki Semar mengatakan “ tak mungkin orang miskin seperti kamu mampu membeli barang daganganku ini”. Ki sarap sangat marah disebut sebagai orang miskin tapi diam saja menahan amarah karena kejadian tersebut di tempat umum. Akhirnya dia pulang dengan tangan hampa tanpa membawa sangket yang diinginkannya, saat pikirannya dipenuhi perasaan tersinggung oleh ucapan Ki semar yang sangat menyakitkan hatinya, kemudian timbulah rencana untuk menghadang Ki semar dalam perjalanan pulang kerumahnya nanti. Sekitar pukul 10.00 siang ketika itu para pedagang dipasar mulai bubar dan Ki semar mulai beranjak pulang menuju rumahnya di kampong kemuning, ia berjalan tergesa – gesa karena pada hari itu ia harus mengejar sholat jum’at berjamaah. Di tempat yang sepi antara Balagendong dan kampong kemuning, tiba – tiba muncul Ki Sarap di tengah jalan menhadang Ki Semar, saat itu Ki Sarap yang hatinya sudah dipenuhi kemarahan tanpa basa - basi lagi langsung menyerang Ki Semar berusaha membela dirinya sehingga terjadilah adu kekuatan ilmu kemonesan / kesaktian. Kemudian masing – masing mengeluarkan ilmu ketangkasan dan kehebatannya, memang mereka berdua sama – sama kuat, tangkas dan sakti kanuragan. Perkelahian antara keduanya itu berlangsung sejak jam 11.00 siang sampai jam 18.00 sore menjelang magrib. Ki sarap telah mengeluarkan seluruh kemampuannya, semua jurus, kelit, seliwa kurung, lima pukul, sepak kombinasi, sodok dan seribu satu langkah telah dikeluarkannya. Tapi Ki Semar juga sama tangguhnya, setiap kali kena benturan pukulankeras Ki Sarap, setiap kali itu pula benturannya mengeluarkan suara seperti gendring dan juga mengeluarkan kilatan api dari tubuh Ki Semar. Begitu pula Ki sarap yang tangguh, beliau menguasai ilmu pencak silat bandrong, tubuhnya sama sekali tak dapat di sentuholeh serangan – serangan Ki semar yang datang beruntun seperti air bah. Pencak silat bandrong sangat ampuh sebab dalam langkah dan jurusnya terdapat banyak versi dan variari pukulan, mampu berkelit dari pukulan atau tendangan musuh, bacokan golok, tusukan pisau atau senjata apapun, seorang pesilat bandrong akan dapat berkelit dengan sangat indah, licin dan gesit luar biasa. Bahkan serangan baliknya sangat membahayakan bagi lawan – lawanya. Semakin keras serangan musuhnya, semakin keras pula jatuhnya, bahkan pesilat bandrong dapat menawarkan kepada musuhnya ingin jatuh terlentang atau telungkup bahkan terpelanting, hal seperti ini akan membuat musuh – musuhnya kewalahan. Peristiwa itu memang luar biasa, keduanya ternyata sama – sama sakti Ki semar sangat kebal pukulan, Ki sarap sangat licin bagai belut dan tangkas menyerang seperti ikan bandrong yang melesat terbang dan menukik. Ketika alam mulai gelap mendekati waktu magrib, tiba – tiba Ki sarap menghadapkan tubuhnya kearah kiblat kepalanya menengadah kelangit bermunajat dan istighosah kepada Allah SWT, setelah selesai berdo’a terlihat kakaknya yang bernama Ki ragil sedang duduk di pelepah pohon aren yang tinggi, agaknya sudah lma dia memperhatikan pertarungannya. Melihat itu Ki Sarap pun berteriak ” kakak ! sudah sejak pagi hingga sore aku bertarung melawan orang ini, tapi belum ada yang kalah” . Ki Ragil pun bertanya : ” Apa kamu sudah lelah atau kewalahan ?”, hai adikku, ini ambillah golokku tebaslah leher musuhnmu ” ujar Ki ragil sambil menjatuhkan goloknya. Kemudian Ki sarap mengambil golok itu dan menebas leher Ki semar, dengan sekali tebas kepala Ki semarpun terpental puluhan meter, lalu kepala itu berputar seperti gangsing kemudian menghujam kedalam tanah. Hingga saat ini tempat kepala terkubur yaitu dipinggir sungai di tepi hutan antara balagendong dan kampung kemuning menjadi tempat yang sepi dan kabarnya angker banyak gangguan mahluk halus hingga sekarang ini. Usai sudah pertandingan hebat itu yang dimenangkan oleh Ki sarap, kemudian masyarakat yang menyaksikan adu kekuatan itu segera mengangkat tubuh Ki semar yang tanpa kepala dibawa kekampung untuk di urus sebagaimana mestinya dan kemudian dimakamkan dikampung kemuning desa tegal luhur. Ter siarnya kabar tentang kematian Ki semar yang saat itu menjabat sebagai senopati tanah banten, merupakan berita yang menghebohkan dan berita itu dibicarakan dihampir semua tempat orang berkumpul membicarakan tentang kejadian tersebut dan sampailah berita tersebut kepada Sultan Maulana Hasanudin di Banten. Mendengar berita tersebut Sultan sangat terkejut dan marah, kemudian memerintahkan kepada punggawanya untuk menangkap Ki Sarap yang di anggap sebagai pembunuh Ki Semar sang senopati Banten. Sepasukan tentara lengkap segera di berangkatkan ke gudang batu untuk menangkap Ki Sarap yang kemudian dihadapkan kepada sultan karena akan diadakan pengusutan lebih lanjut tentang pembunuhan itu. Selanjutnya atas perintah Sulatan Banten, Ki Sarap di masukkan kedalam penjara dan akan dihukum mati di tiang gantungan. Selama dalam penjara Ki sarap selalu bermunajat kepada Allah SWT untuk mendapat perlindungan Nya, disamping itu juga ia juga mengamalkan ilmu asihannya ( Aji – aji pengasih ) agar dia diampuni dan dikasihani oleh Sultan Maulan Hasanudin. Berkat pertolongan Allah SWT, aji – aji pengasih Ki sarap bukan hanya berpengaruh kepada sultan, tapi juga manjangkau hati sanubari permaisuri Sultan Maulana Hasanudin. Dalam suatu musyawarah mengenai hukuman yang akan dijatuhkan kepada Ki Sarap, permaisuri Sultan mengemukakan pendapatnya bahwa hukuman mati untuk Ki Sarap sangat tidak tepat dengan alasan : - Ki Sarap dan Ki semar bertarung mengadu kesaktian dan yang hidup adalah karena membela diri sendiri berarti hal itu bukanlah pembunuhan.
- Kerajaan Banten sangat membutuhkan orang – orang yang gagah berani, kuat dan banyak ilmunya seperti Ki Sarap untuk menghadapi musuh yang lebih besar lagi, hal ini jelas Ki Sarap lebih kuat dengan berhasilnya dia mengalahkan Ki Semar yang saat itu menjabat Senopati Banten.
Dengan adanya usul permaisuri tersebut Sulatan tidak langsung menerima begitu aja, tapi saran itu di renungkannya lagi dan dimusyawarahkan bersama para pembantu Sultan yang lainnya, dan akhirnya pendapat permaisuri itu dapat di terima oleh Sultan. Selanjutnya Ki Sarap dipanggil menghadap Sultan Maulana Hasanudin dan dijelaskan oleh sultan bahwa hukuman mati untuknya dibatalkan kemudian Ki Sarap diberi tugas untuk menggantikan Ki Semar sebagai senopati Kesultanan Banten dengan syarat harus mau melalui ujian ketangkasan yaitu menembak anting – anting ( gegombel ) tudung permaisuri Sultan tanpa melukainya sedikitpun. Persyaratan tersebut diterima oleh Ki Sarap, walaupun dia tahu resikonya sangat tinggi mengingat dia bukanlah seorang ahli dalam hal menembak. Ki Sarap meminta waktu selama tiga hari sebelum ujian tersebut dilaksanakan, ia memohon izin agar dibolehkan pulang ke kampungnya di Gudang batu. Setelah sampai di kampungnya, Ki Sarap segera menghadap kepada kakaknya yaitu Ki Ragil dan memberi tahukan masalah yang sedang dihadapinya, maksud Ki Sarap menceritakan tentang ujian dari sultan tersebut untuk meminta petunjuk atau bantuan saran dari kakaknya. Ki Ragil mengatakan ” pergilah dan bawalah benda ini, untuk dimasukan kedalam senapan saat pelaksanaan ujian itu nanti”. Kemudian Ki Ragil memberi beberapa petunjuk tata cara menembakkan senjata sebagai berikut : ” Jika sang permaisuri berada di daerah timur menghadap ke arah barat, berbaliklah ke arah yang sama dan arahkan senapanmu ke arah barat pula dan jika permaisuri di arah utara menghadap keselatan, maka kamu pun harus demikian pula arahnya”. Setelah semua pesan dari Ki Ragil dimengerti dengan sebaik – baiknya, maka Ki Sarap memohon doa dari kakaknya untuk segera kembali menghadap Sultan Maulana Hasanudin di Banten. Sore hari itu Ki Sarap telah sampai di Banten dan langsung menghadap Sultan, saat itu Sultan Maulana Hasanudin tercengang kagum dan gembira menyaksikan Ki Sarap yang konsekwen dengan permintaan izinnya untuk pulang hanya tiga hari, itupun ditepatinya dengan baik. Pada hari yang telah ditentukan, tibalah saat yang dinanti – nantikan oleh seluruh masyarakat Banten, karena pada hari itu sultan akan menguji ketangkasan seorang calon Senopati Banten. Di alun – alun kesulatanan Banten, sejak pagi hari masyarakat sudah memenuhi arena tempat pengujian, mereka sangat antusias untuk menyaksikan peristiwa yang sangat menegangkan dan hal ini mereka anggap sebagai peristiwa langka dan belum pernah terjadi. Di tengah – tengah alun – alun sang permaisuri duduk dikursi yang berada disebelah timur menghadap ke arah barat, dengan jarak sekitar 30 meter, Ki Sarap berdiri berhadapan dengan permaisuri. Kemudian Ki Sarap mulai membidikan senapannya ke arah sasaran, tapi secara tiba – tiba dengan gerakan yang cepat Ki Sarap membalikan tubuhnya kearah barat, bidikan senapannya ditujukan ketempat kosong, dengan hati hati dia menarik pelatuknya kemudian terdengarlah letusan senapanya. Dan apa yang terjadi ? ” ternyata peluru yang ditembakkan tepat mengenai ” gegombel ” kerudung sang permaisuridan terdengar ” pluk” suara gegombel yang jatuh ke tanah tetapi permaisuri Sultan tetap ditempatnya semula tak tersentuh oleh peluru yang ditembakkan oleh Ki Sarap. Jatuhnya gegombel kerudung permaisuri diiringi oleh suara sarak sorai yang gemuruh dari seluruh masyarakat yang menyaksikannya. Tepuk tangan yang berkepanjangan menggambarkan kepuasan dan kegembiraan masyarakat karena telah memiliki senopati baru yang gagah, hebat dan tinggi ilmunya. Permaisuri menitikkan air mata bahagia karena saran pendapatnya sudah menjadi kenyataan bahwa kesultanan Banten Kini telah diperkuat oleh seorang senopati sakti yang berasal dari daerah Gudang batu yaitu Ki Sarap. Kemudian Ki Sarap diberi gelar kehormatan yaitu ” SENOPATI NURBAYA ”. Senopati Nurbaya yang kemudian dikenal Ki urbaya menjalankan tugas utamanya untuk mengamankan wilayah laut jawa terutama teluk banten dan pelabuhan karang antu. Beliau bermarkas di ” BOJO – NAGARA ” untuk menghadapi para bajak laut yang mereka sebut BAJAG – NAGARA, para bajak laut itu bermarkas di Tanjung Bajo dan biasanya hasil rampokan mereka disembunyikan atau ditunda dulu di ” Pulo tunda ” sebelum dibawa kedaerahnya masing – masing. Kini tempat – tempat tersebut menjadi terkenal dan namanya dikekalkan dengan peristiwa yang terjadi disana kini menjadi nama yang mengandung kenangan abadi. Selama bertugas di Kesultanan Banten, Ki Patih Nurbaya atau panggilan lainnya Ki Jagabaya atau Ki Jagalaut menjaga wilayah yang dikuasainya sehingga wilayah tersebut menjadi aman dan tentram tak pernah ada gangguan dari para pengacau terutama para bajak laut yang dulu berkeliaran menguasai Laut Jawa dan Teluk Banten. Karena tugasnya selalu menjaga laut, akhirnya nama k\Ki Sarap lebih populer dengan gelarnya : ”KI JAGABAYA” atau ”KI JAGA LAUT”. Dunia terus berputar sejarah berjalan sesuai dengan kehendak tuhan, lama juga Ki Jagabaya menjalankan tugasnya mengamankan daerah yang di amanatkan kepadanya. Beliau memusatkan pertahanannya di PULO KALIH ( pulau dua ) apabila beliau mengintai musuh dilakukannya dari puncak gunung Santri seban dari tempat ini mudah baginya untuk melihat kearah laut lepas, dapat melihat kapal yang datang dan pergi dari bojonegara dan juga dapat berkomunikasi dengan Pulo kalih dan menara Banten. Ki Jagabaya atau Ki Jaga laut menggunakan isyarat – isyarat bahaya dengan cara sebagai berikut : - Apabila bahaya terjadi disiang hari mereka menggunakan sinar matahari yang dipantulkan melalui cermin.
- Apabila bahaya terjadi malam hari mereka menggunakan isyarat kobaran api unggun. Semua itu dilakukan dari puncak gunung santri dan dapat dipantau dari Pulo kalih dan Menara Banten.
Saat usianya menjelang senja, Ki Patih Nurbaya menyadari tentang pentingnya kaderisasi atau generasi penerus. Beliau berniat menurunkan ilmunya terutama ketangkasan khusus yaitu ilmu beladiri ” Pencak Silat Banten” yang disebutnya ” Bandrong” , ilmu itu secara khusus diturunkan kepada putra Sultan Maulana Hasanudin, selanjutnya para punggawa dan prajurit serta murid – muridnya yang berada di pulo kalih dan Gudang batu waringin kurung. Selanjutnya pendidikan ketangkasan dan kedigjayaan itu dipusatkan di pulo kalih dan dibina langsung oleh kedua kakak beradik Ki Sarap dan Ki Ragil. Disanalah mereka berdua menghabiskan masa tuanya, kemudian setelah dipanggil menghadap Tuhan Nya, mereka berdua dimakamkan di pemakaman umum di daerah Kahal wilayah kecamatan bojonegara. Hingga sekarang tempat itu dikenal dengan sebutan ” MAKAM KI KAHAL” dan alhamdulillah sampai sekarang banyak masyarakat yang datang mengziarahinya terutama para pesilat Bandrong yang saat ini sudah menyebar di lima propinsi di indonesia. Asal Usul nama Silat Bandrong Mengingat kesetiaan masyarakat di kawasan gunung santri, Gudang batu, dan Pulo kalih terhadap Kesultanan Banten, maka diresmikanlah Bojonegara artinya Bojone Negara ( istri negara ). Sedangkan silat asli banten diberi nama BANDRONG, diambil dari nama jenis ikan terbang yang sangat gesit dan dapat melompat tinggi, jauh, atau dapat menyerang kerang dengan moncongnya yang sangat panjang dan bergerigi tajam sekali, sehingga ia merupakan ikan yang sangat berbahaya, sekali serang dapat membinasakan musuhnya. Ki Patih Jaga laut atau patih yang selalu melanglang buana menjaga laut, sangat menyukai dan sering memperhatikan ikan tangkas gesit ini dan juga jangkauan lompatan jarak jauhnya dan hal itu benar – benar mempesonanya. Sehingga akhirnya beliau mengambil nama ikan itu untuk memberi nama ilmu ketangkasan beladiri yang dimilikinya dengan nama ” PENCAK SILAT BANDRONG” karena tangkas dan gesit serta berbahaya seperti ikan Bandrong. JURUS DASAR PADA SILAT BANDRONG - JURUS PILIS
- JURUS CATROK
- JURUS TOTOG
- JURUS SELIWA
- JURUS GEBRAG
- JURUS KURUNG
Gerakan dasar langkah silat Bandrong - Geleng / giling
- Cawuk
- Wiyak
- Rawus
- Rambet
- Pentil
- Keprak
- Sendok
- Jingjing
- Colok
- Badug
- Tejeh
- Pukul
- Depok
- Goco
| - Sentak
- Sabet
- Sepak
- Dupak
- Dedeg
- Bulang baling
- Gendong
- Gedog
- Gunting
- Sapu
- Sangsut
- Gedrig
| Sumber – sumber : - ” Ngagurat Tapak Leluhur Banten Pencak Silat Bandrong ” , Dewan Pimpinan Pusat Pencak Silat Bandrong
- Hasil Wawancara dan diskusi dengan Bapak Satibi dan Bapak Astare sesepuh Bandrong perguruan Padepokan Silat Karang Tunggal, Kp. Karang Dalan Desa Karang Kepuh Kec. Bojonegara – Serang Banten
Riwayat Penulis : Nasrudin Temtala : Serang, 18 Juli 1979 Alamat : Kp. Luwung Sawo Blok Masjid No.41 Rt.03/09 Kel. Kotabumi Kota Cilegon - Banten URL : http://silatbanten.multiply.com Aktifitas : - Anggota Forum Pecinta Pelestari Silat Tradisional Indonesia
- Anggota Forum sahabatsilat.com
- Anggota Milis Silatindonesia
- Pengurus Perguruan Silat Padepokan Karang Tunggal Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan
- Pecinta dan Pelestari Silat Tradisional Banten
Setelah sebelumnya diliput pada kegiatan diskusi silat beksi di setu babakan oleh beberapa Media masa seperti TransTV, Trans7, dan JakTV. Kegiatan berikutnya Insya Allah Liputan Komunitas pencak silat Indonesia, dan sahabat silat community akan di tayangkan pada :
Hari : RABU / 18 Juni 2008 Jam : 20.30 pada menit ke 30 Menit Acara : Komunitas Kita JAKTV
silahkan saksikan liputannya Kaedah yang terakhir yang saya coba bahas di sini adalah kaedah posisi badan yaitu "Lurus ku serong, serong ku lurus". Maksud dari kaedah ini adalah konsep serang bela dimana pada posisi lurus maka harus di counter dengan posisi serong demikian pula sebaliknya posisi serong harus di counter dengan lurus. Yang di maksud lurus disini adalah bentuk serangan berupa pukulan lurus dengan kuda kuda kaki dan tangan yang sama di depan - misalnya memukul dengan tangan kanan dan posisi kaki kanan yang maju Sedangkan yang di maksud serong adalah posisi badan serong dimana bentuk kuda kuda atau bentuk serangan serong membentuk sudut antara 15 - 45 derajat terhadap arah serangan musuh. Kaedah Lurus ku serong, serong ku lurus adalah kaedah silat yang berpatokan pada bentuk dan posisi lawan terhadap posisi kita dengan memperhitungkan faktor sudut serang lawan dan sudut serang kita. Pada hampir setiap perkelahian dan pertarungan selalu terjadi pada bentuk di mana kita dengan lawan selalu berhadapat secara frontal (sama - sama lurus), sehingga para prakteknya aplikasi sambut pukul yang sangat mengandalkan teknik dan fisik sangat menjadi andalan dalam perkelahian jarak dekat dengan model ini. Jika kita bandingkan dengan definisi kaedah Jurus diatas tentu saja sangat bertentangan dengan kadah ini, kaedah ini sendiri di perkenalkan oleh para jawara maenpo sejak dahulu kala. dimana para sesepuh kita sangat menyadari betapa tidak efisien dan menguras tenaga jika kita berhadapan dengan lawan secara frontal. untuk itu kaedah ini di perkenalkan dengan maksud dan tujuan agar ketika kita berhadapan dengan lawan bisa kita hadapi dengan cara yang efektif dan efesien langsung pada tujuan melumpuhkan lawan tanpa menguras tenaga pada acara sambut pukul. Kaedah Lurus Ku Serong , mengandung makna jika kita melawan serangan lawan yang lurus dan frontal dengan kita harus di hadapi dengan posisi serong (dengan sudut antara 15-45 derajat terhadap lawan) maksud serong disini bisa berupa egosan atau memang jika tidak sempat mengindari serangan musuh maka dampak serangan yang dirasakan tidak telak (karena posisi badan kita tidak tegak lurus terhadap serangan lawan). Kaedah Serong ku Lurus, mengandung makna jika musuh masuk tidak frontal terhadap kita dengan mengambil sudut yang tipis (misalnya pada aplikasi sambut luar) terhadap posisi kita, maka kita harus segera memperbaiki posisi badan kita agar bisa mendapatkan posisi lurus (atau tegak lurus) terhadap posisi lawan kita sehingga sudut serang kita akan lebih menguntungkan kita dan lawan akan mendapatkan posisi kuda kudanya tidak menguntungkan. Demikian sedikit penjelasan tentang kaedah maenpo/silat sunda yang banyak di terapkan pada aliran "buhun" yang menjadi bukti kekayaan dan ke jeniusan para tokoh beladri masa lalu yang sudah memperhitungkan posisi, tenaga, rasa dan titik berat yang sangat mempengaruhi pada semua permainan silat tradisional khususnya di jawabarat
| |